Jumat, 31 Januari 2014

Rancangan Program Pendidikan Penjumlahan Pada Anak TK A

Ini adalah tugas akhir Blok Psikologi Pendidikan gue. Daripada numpuk doang di laptop gue, mending dibagiin di sini. Siapa tau berguna.



Rancangan Program Pendidikan Penjumlahan Pada Anak TK A

Bab 1 Pendahuluan 
1.1 Latar Belakang Penyusunan Makalah
Menurut Departemen Pendidikan Nasional, makalah berarti karya tulis pelajar atau mahasiswa sebagai laporan hasil pelaksanaan tugas sekolah atau perpengajaran tinggi (2008). Sebagai mahasiswi yang menjalani Blok Psikologi Pendidikan, penulis diharapkan mampu untuk menerapkan apa yang telah dipelajari di kelas ke dalam dunia nyata. Adapun psikologi pendidikan adalah cabang dari psikologi yang mendalami pengertian mengajar dan belajar dalam setting edukasional (Santrock, 2011). Oleh karena itu, penulis menyusun makalah ini sebagai hasil penerapan hal-hal yang telah dipelajari oleh penulis dari Blok Psikologi Pendidikan.
1.2 Tujuan Penyusunan Makalah
Makalah ini disusun oleh penulis agar dapat menjadi referensi rancangan program pendidikan penjumlahan pada anak TK A dengan cara mengajar yang efektif. Selain itu, penulis juga berharap bahwa dengan menyusun makalah ini, penulis dapat meningkatkan kemampuannya dalam membuat rancangan program pendidikan sehingga untuk ke depannya penulis dapat menyusun rancangan program pendidikan yang lebih baik lagi.

Bab 2 Landasan dalam Penyusunan Program
2.1 Latar Belakang Penyusunan Program
     Matematika adalah ilmu tentang bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional yg digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan, sementara penjumlahan adalah proses, cara, perbuatan menghitung berapa banyaknya benda yang dikumpulkan menjadi satu (Departemen Pendidikan Nasional, 2008).
     Penulis memilih mata pelajaran matematika karena menurut penulis, matematika adalah pelajaran yang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan praktis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, misalnya untuk berbelanja. Fungsi matematika adalah untuk mengembangkan kemampuan berhitung, mengukur, menurunkan rumus dan menggunakan rumus matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari melalui pengukuran dan geometri, aljabar, peluang dan statistika, kalkulus, dan trigonometri, serta untuk mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan melalui model matematika, diagram, grafik, atau tabel (Ekawati, 2011).
     Penulis memilih anak TK A karena anak TK A berusia sekitar empat sampai lima tahun. Usia ini adalah waktu ideal bagi anak untuk mempelajari berbagai keterampilan, membentuk kebiasaan-kebiasaan, dan memperoleh konsep-konsep dasar untuk memahami diri dan lingkungan sekitar (Siregar, n.d.).
2.2 Tujuan Penyusunan Program
     Tujuan penyusunan Program Pendidikan Penjumlahan Pada Anak TK A  adalah agar anak-anak TK dapat memahami penjumlahan dan mengaplikasikannya di dunia nyata.
2.3 Analisis Karakteristik Kompetensi
     Karakteristik kompetensi yang diinginkan oleh penulis adalah kemampuan untuk menjumlahkan sampai sepuluh benda (jumlah benda tidak melebihi sepuluh buah). Kebanyakan siswa pada masa tingkatan Taman Kanak-kanak  yang berasal dari keluarga menengah ke atas telah dapat menghitung lebih dari 20, banyak juga yang dapat menghitung sampai lebih dari 100, mampu menghitung dengan tepat jumlah barang, mengetahui nilai dari angka (misalnya, 8 lebih besar dari 6), dan mampu melakukan pengurangan serta penjumlahan satu digit (Siegler & Robinson, dikutip dalam Santrock, 2011). Siswa baru diajarkan penjumlahan sampai sepuluh benda sebagai persiapan agar mengerti dasar-dasar dari penjumlahan karena pendalaman tentang penjumlahan akan dilakukan di TK B.
2.4 Analisis Karakteristik Pengajar
     Dalam program ini, dibutuhkan bantuan beberapa tutor dalam satu kelas. Tutor dapat merupakan sukarelawan, mentor, atau pengajar lain. Karakteristik pengajar dan tutor yang dibutuhkan adalah memiliki  kemampuan effective teaching yang terdiri atas professional knowledge and skills serta komitmen, motivasi, dan kepedulian.
     Professional knowledge and skills meliputi menguasai materi yang diajarkan (penjumlahan), memahami pendekatan learner-centered dan teacher-centered, mampu berpikir kritis, mampu menentukan tujuan dan membuat perencanaan belajar, dapat mengajar sesuai dengan perkembangan anak, dapat mengatur keadaan kelas, mampu memotivasi siswa, memilii kemampuan komunikasi yang baik, peduli terhadap perbedaan individual, dapat mengajar  siswa-siswa yang berasal dari latar belakang yang berlainan, memiliki kemampuan dan pengetahuan tentang pemberian tugas dan ujian, serta menguasai teknologi (Santrock, 2011).
     Penulis menyarankan agar para pengajar dan tutor dapat menjadi komunikator yang baik, yaitu memiliki kemampuan berbicara, kemampuan mendengarkan, dan komunikasi nonverbal.
     Ada beberapa strategi agar dapat berbicara secara jelas dengan siswa yaitu menggunakan bahasa yang sesuai dengan usia siswa (tidak menggunakan bahasa yang terlalu sulit untuk anak TK), berbicara dengan tempo yang tidak terlalu cepat atau lambat, menghindari ketidakjelasan dalam komunikasi, dan menggunakan kemampuan perencanaan dan berpikir logis (Florez, dikutip dalam Santrock, 2011).
     Untuk menjadi komunikator yang baik, pengajar dan tutor juga harus memiliki kemampuan mendengarkan yang baik dengan menggunakan active listening, yaitu memberikan perhatian penuh pada pembicara dan memperhatikan isi pesan yang bersifat intelektual dan emosional (Santrock, 2011).
     Dalam hal komunikasi nonverbal, pengajar dan tutor harus dapat mengerti petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh siswa melalui gerak tubuh, ekspresi wajah, personal space, dan kesunyian (Santrock, 2011). Pengajar dan tutor juga diharapkan untuk berbicara dengan siswa dengan melakukan kontak mata.
     Pengajar dan tutor diharapkan mampu membuat kelas menjadi menarik, mau mendengarkan siswanya, adil, jujur, mampu menepati janjinya, memperlakukan siswa seperti teman, dan memastikan bahwa semua siswa memahami apa yang diajarkan (Santrock, 2011). Pengajar dan tutor juga harus mampu mengelola kelas dengan gaya pengelolaan otoritatif, yaitu gaya pengelolaan kelas yang memberikan siswa kebebasan dalam berpikir dan bertindak dengan tetap memonitor mereka, dan mampu menunjukkan bahwa pengajar peduli pada siswa (Santrock, 2011).
2.5 Analisis Karakteristik Siswa
     Program ini disusun untuk siswa yang telah dapat mengenali angka, dapat menpengajartkan angka dari yang terkecil hingga terbesar, dan dapat menghitung jumlah benda. Siswa juga tidak memiliki learning disabilities, yaitu memiliki kesulitan dalam belajar yang meliputi pemahaman dan penggunaan bahasa, dalam mendengarkan, berpikir, membaca, menulis, mengeja dan dalam perhitungan matematika. (Santrock, 2011). Dalam aspek psikomotor, siswa diharapkan setidaknya memiliki kemampuan perseptual, yaitu mampu menggunakan indera untuk melakukan sesuatu untuk membimbing kemampuan mereka (Santrock, 2011). Contoh kemampuan perseptual dalam program ini adalah siswa mampu menggunakan matanya untuk melihat dan telinganya untuk mendengar penjelasan pengajar agar mengetahui cara menjumlahkan.
     Siswa yang akan diajarkan adalah siswa yang berusia empat sampai lima tahun. Menurut tahap perkembangan Piaget, pada usia ini anak sedang berada pada tahap preoperational, yaitu tahap saat pemikiran simbolik telah berkembang, tetapi anak masih belum dapat menggunakan logika. Pada tahap ini anak sudah dapat menghitung dan memiliki ordinality atau konsep dalam membandingkan jumlah  (Papalia & Feldman, 2012).
     Dalam tahap perkembangan Erikson, anak sedang berada pada tahap initiative versus guilt, yaitu anak mengembangkan inisiatif saat melakukan aktivitas baru dan rasa bersalah (Papalia & Feldman, 2012). Bila anak selalu dilarang atau dimarahi saat sedang berinisiatif, maka anak tersebut akan lebih mengembangkan rasa bersalahnya, oleh karena itu, dalam program ini, siswa lebih ditekankan untuk berinisiatif, dan pengajar serta membantunya saat ia melakukan kesalahan, bukan memarahinya.
2.6 Analisis Pendekatan Belajar
     Pendekatan belajar yang digunakan sebagai dasar program oleh penulis adalah pendekatan social constructivist dari Vygotsky, yaitu pendekatan yang menekankan pada konteks sosial dari belajar dan bahwa pengetahuan dibangun dan dikonstruksi bersama-sama (Santrock, 2011). Dalam program ini, penulis menekankan pada peran pengajar yang hanya menjadi seorang fasilitator saat para siswa sedang mengerjakan soal dengan menggunakan scaffolding dan tutoring.
     Meskipun demikian, program ini tidak hanya menggunakan pendekatan social constructivist saja. Penulis juga menggunakan pendekatan behavioral  yang menekankan pada pengalaman dan konsekuensi (Santrock, 2011). Bentuk pendekatan behavioral yang digunakan oleh penulis adalah pemberian reinforcement bagi siswa yang telah menyelesaikan tugasnya.
2.7 Analisis Aktivitas Belajar
     Dalam program ini, penulis menggunakan pendekatan teacher-centered dan learner-centered. Awalnya, penulis menggunakan pendekatan teacher-centered saat akan mengajarkan pelajaran baru (penjumlahan) pada siswa. Penulis menggunakan strategi comparative advance organizers, yaitu memperkenalkan materi baru (penjumlahan) dengan menghubungkannya dengan pengetahuan siswa sebelumnya (mengenal angka, menghitung jumlah benda), dan memberikan penjelasan serta demonstrasi di kelas (Santrock, 2011).
     Penulis juga menggunakan behavoral objectives dalam perencaannya. Behavioral objectives adalah pernyataan-pernyataan tentang perubahan yang diinginkan pengajar dalam performa siswanya (Borich, dikutip dalam Santrock, 2011). Ada tiga bagian dari behavioral objectives, yaitu perilaku siswa, kondisi kemunculan perilaku, dan kirteria performa (Mager, dikutip dalam Santrock, 2011). 
     Dalam program ini, penulis berharap siswa dapat memahami dan mengaplikasikan penjumlahan (perilaku siswa),  penulis berencana untuk memberikan soal-soal untuk siswa (kondisi kemunculan perilaku), dan penulis memutuskan bahwa siswa harus dapat mengerjakan paling sedikit tiga buah soal dengan benar (kriteria performa).
     Setelah memperkenalkan materi baru kepada siswa menggunakan pendekatan teacher-centered, pengajar kemudian menggunaan pendekatan learner-centered. Pendekatan learner-centered yang digunakan oleh penulis adalah pendekatan-pendekatan yang berkaitan dengan social constructivist, yaitu tutoring, yang merupakan hubungan yang terbentuk karena ahli (pengajar, tutor) dapat mendukung kemampuan pemula (siswa), dan scaffolding, yang merupakan teknik yang merubah tingkatan dukungan belajar secara bertahap. (Santrock, 2011).
     Pengajar menjadi fasilitator dalam kegiatan pembelajaran saat anak mencoba menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Dibutuhkan beberapa tutor, karena akan sulit untuk membantu setiap anak satu per satu. Satu orang tutor membantu maksimal empat orang anak. Sukarelawan, mentor, atau pengajar lain dapat bertindak sebagai tutor.
     Penulis juga menggunakan operant conditioning, yaitu pembelajaran yang menggunakan konsekuensi perilaku untuk mengubah kemungkinan munculnya perilaku tersebut (Santrock, 2011). Dalam program ini, penulis menggunakan operant conditioning saat siswa sudah selesai mengerjakan soal-soal yang diberikan. Setiap siswa yang sudah selesai, bukunya akan ditempelkan satu buah stiker berbentuk bintang.
2.8 Analisis Evaluasi Belajar
     Evaluasi belajar dilakukan dengan memberikan siswa empat buah soal latihan constructed-response item, yaitu soal-soal yang jawabannya harus ditulis sendiri oleh siswa, bukan hanya dipilih (Santrock, 2011). Bentuk constructed-response item yang penulis pakai adalah short-answer item, yaitu siswa hanya perlu memberikan jawaban dalam bentuk sebuah kata, kalimat singkat, atau beberapa kalimat (Santrock, 2011). Penulis menggunakan short-answer item karena siswa mendapatkan jawabannya dari melakukan penjumlahan secara langsung dengan menggunakan alat bantu sehingga tidak perlu menuliskan caranya.
     Soal yang diberikan adalah soal-soal yang memiliki content validity, yaitu kemampuan tes untuk mewakili konten yang akan diukur, dan instructional validity, yaitu soal yang diberikan merupakan sampel dari yang dilakukan di kelas (Santrock, 2011). Soal dapat dikatakan memiliki content validity karena konten yang ditanyakan dalam soal sama dengan konten yang akan diukur, yaitu penjumlahan, sementara soal dapat dikatakan memiliki instructional validity karena soal yang diberikan untuk latihan mirip seperti soal contoh yang telah diberikan oleh pengajar sebelumnya.
     Jenis soal yang digunakan adalah criterion-referenced test, yaitu tes yang membandingkan performa siswa dengan kriteria tertentu (Santrock, 2011). Penulis menggunakan criterion-referenced test karena bila menggunakan norm-referenced test, kompetensi pelajaran dapat berkurang. Nilai siswa berskala antara 0-100, dengan masing-masing soal bernilai 25. Nilai tidak dituliskan di lembar kerja siswa dan hanya dituliskan di buku nilai pengajar.
     Hasil latihan kemudian akan dikumpulkan bersama dengan hasil-hasil latihan yang lainnya agar siswa dan orang tua siswa dapat meninjau ulang apa yang telah dipelajari selama di Taman Kanak-kanak. Prinsip pengumpulan tugas ini diambil dari prinsip portfolio, yaitu kumpulan karya siswa yang disimpan dan diorganisir secara sistematis untuk mendemonstrasikan kemampuan dan pencapaian siswa (Santrock, 2011). Namun, pengumpulan ini bukan merupakan portfolio karena portfolio berisi tugas-tugas tertentu, sementara yang dikumpulkan oleh penulis adalah hasil latihan berbentuk traditional test.
     Hasil latihan juga akan dimasukkan ke dalam written progress report, yaitu laporan tertulis yang meliputi hasil tes, kuis, proyek, dan tugas-tugas lain siswa yang akan diberikan kepada orang tua setiap satu periode tertentu, dalam program ini berarti seminggu sekali (Santrock, 2011).

 Bab 3 Program Pendidikan Penjumlahan Pada Anak TK A
3.1 Tujuan Program
     Tujuan dari program ini adalah agar  siswa dapat memahami penjumlahan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Dalam Taksonomi Bloom, memahami berarti siswa dapat mengerti dan menjelaskan kembali informasi dengan bahasa mereka sendiri, sementara mengaplikasikan berarti siswa dapat menggunakan pengetahuan yang ia dapat untuk menyelesaikan masalah di kehidupan nyata (Santrock, 2011). Jadi, penulis ingin agar para siswa dapat mengerti tentang penjumahan, dan dapat mengaplikasikannya dalam dunia nyata, misalnya saat menjumlahkan barang-barang yang ia miliki.
3.2 Jangka Waktu Pelaksanaan
     Program ini hanya disusun untuk satu sesi, yaitu sekitar tiga puluh menit, karena jangka waktu perhatian anak berusia empat sampai lima tahun masih terbatas (Santrock, 2011).
3.3 Kondisi Tempat Pelaksanaan
     Dalam pelaksanaan program ini, kondisi yang ideal adalah ruangan kelas dengan pencahayaan yang cukup, suhu ruangan berkisar antara delapan belas sampai dua puluh empat derajat celcius agar siswa tidak kepanasan, dan tingkat kebisingan eksternal yang rendah agar konsentrasi siswa tidak terpecah.
     Akan lebih baik bila di dalam kelas ada beberapa meja besar, dan di setiap meja ada empat orang siswa serta satu pengajar atau tutor. Jumlah meja beragam tergantung jumlah siswa, tetapi penulis menyarankan agar jumlah siswa dalam satu kelas tidak melebihi 20 siswa. Posisi meja diatur dengan offset style, yaitu gaya pengaturan kelas yang menempatkan beberapa siswa duduk bersama di satu meja tetapi tidak saling berhadapan (Santrock, 2011).
     Penulis menggunakan offset syle untuk mengurangi kemungkinan gangguan oleh teman sebaya yang akan muncul bila menggunakan face-to-face style. Meskipun menggunakan offset style, ketika pengajar sedang menerangkan maka posisi kursi siswa akan diubah menjadi auditorium style, yaitu semua siswa menghadap ke depan sehingga dapat memperhatikan dengan baik.
Gambar 3.1. Contoh pengaturan posisi kelas saat pengajar menerangkan.
Gambar 3.2. Contoh pengaturan posisi kelas saat mengerjakan tugas.
3.4 Materi dan Perlengkapan
     Materi untuk program ini adalah materi penjumlahan sampai sepuluh (hasil penjumlahan tidak melebihi sepuluh). Perlengkapan yang dibutuhkan dalam program ini adalah satu buah kotak bening dan sepuluh buah bola untuk masing-masing siswa. Bila di dalam kelas ada dua puluh orang siswa, maka bila ditambah jumlah pengajar, dibutuhkan dua puluh lima kotak bening dan dua ratus lima puluh buah bola. Bola dapat diganti menjadi benda-benda lain, seperti koin atau kancing, meskipun penulis menyarankan pengajar dan tutor untuk menggunakan benda yang berukuran cukup besar agar mudah dihitung olehh siswa.
3.5 Prosedur Pelaksanaan Program
Tabel 3.1
Prosedur Pelaksanaan Program Penjumlahan Pada Anak TK A
No.
Tujuan
Instruksional
Waktu
Kegiatan
Keterangan
1
Agar siswa mengetahui apa yang akan mereka pelajari.
Pk. 8.30 – Pk. 8.31
Pengajar maju ke depan kelas dan memberitahu bahwa hari ini mereka akan belajar tentang penjumlahan sementara para tutor membagikan lembar soal pada murid.
-
2
Siswa dapat memahami cara menyelesaikan soal penjumlahan menggunakan alat bantu.
Pk. 8.31 – Pk. 8.35
Pengajar membacakan  contoh soal penjumlahan yang telah ada di lembar kerja siswa dan menyelesaikannya bersama siswa dengan menggunakan alat bantu.
Alat bantu yang digunakan adalah kotak bening, bola, dan papan tulis.
Setelah siswa memberikan jawaban, pengajar menuliskannya di papan tulis.
3
Siswa dapat memahami cara menyelesaikan soal penjumlahan menggunakan alat bantu bersama-sama dengan pengajar.
Pk. 8.35 – Pk. 8.39

Pengajar membacakan  contoh soal penjumlahan lain yang telah ada di lembar kerja siswa. Pengajar mengangkat bola dan meminta anak untuk menghitungnya.

4
Siswa dapat mencoba sendiri cara menyelesaikan soal penjumlahan menggunakan alat bantu.
Pk. 8.39 – Pk. 8.55
Pengajar meminta siswa mencoba menyelesaikan soal-soal lain yang ada di lembar kerja dengan menggunakan kotak bening dan bola
Jumlah soal hanya empat. Pengajar dan tutor hanya berfungsi sebagai fasilitator. Setiap pengajar dan tutor menangani maksimal empat orang siswa.
5
Siswa merasa hasil perhitungannya dihargai. Juga agar pengajar dapat melakukan evaluasi
pencapaian tujuan program.
Pk. 8.55 – Pk. 9.00
Pengajar dan tutor memeriksa hasil pekerjaan siswa yang telah selesai. Setiap siswa yang telah selesai diberikan stiker berbentuk bintang untuk ditempel dibukunya.
Stiker berbentuk bintang digunakan sebagai reinforcement agar siswa mau
mengerjakan penjumlahan lagi di sesi-sesi selanjutnya.

     Saat pengajar memberikan soal, ia tidak hanya menyebutkan angka-angka, tetapi juga membuat cerita.
Contohnya, “Ibu memberikan tiga buah bola kepada Budi,” pengajar mengajak siswa menghitung dan memasukkan tiga buah bola ke dalam kotak lalu menulis angka tiga di papan tulis serta meminta siswa menuliskan angka tiga juga di lembar kerja mereka, “lalu Ayah memberikan Budi dua buah bola,” pengajar mengajak siswa menghitung dan memasukkan dua buah bola ke dalam kotak lalu menulis tanda tambah dan angka dua di papan tulis serta meminta siswa menuliskan tanda tambah dan angka dua juga di lembar kerja mereka.
     “Berapa jumlah bola Budi sekarang?” Pengajar mengeluarkan bola yang berada di dalam kotak satu per satu sambil menghitungnya bersama siswa, lalu menuliskan jumlahnya di papan tulis serta meminta siswa menuliskannya juga di lembar kerja mereka.
     Saat pengajar memberikan soal contoh untuk aktivitas nomor 3, pengajar tetap menggunakan bola dan kotak bening, tetapi ia tidak menghitungnya bersama-sama dengan siswa, ia meminta siswa untuk menghitung jumlah bola yang ia masukkan dan keluarkan dari dalam kotak.
Gambar 3.3. Kondisi awal peralatan. Papan tulis dan kotak kosong.

Gambar 3.4. Pengajar mulai menghitung bola. Pengajar memasukkan tiga buah bola dan menulis “3” di papan tulis.

Gambar 3.5. Pengajar menambahkan bola. Pengajar memasukkan dua bola lagi dan menambahkan “+ 2” di papan.

Gambar 3.6. Pengajar menjumlahkan bola. Pengajar mengeluarkan bola didalam kotak sambil menghitungnya, lalu menambahkan “= 5” di papan tulis.
     Bila benda yang ada di dalam soal bukan bola, maka sebelumnya pengajar harus menjelaskan terlebih dahulu pada siswa bahwa bola tersebut dimisalkan sebagai benda lain agar siswa tidak bingung.
3.6 Aspek-aspek yang Perlu Dipertimbangkan dan Upaya yang Dapat Dilakukan
     Aspek-aspek yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan program ini adalah motivasi siswa, kejenuhan, kebosanan, perbedaan individual siswa dalam belajar, dan kemampuan siswa untuk mentransfer dan menggeneralisir dari situasi belajar ke situasi sesungguhnya di luar kelas.
     Motivasi adalah proses-proses yang mendorong, mengarahkan, dan mempertahankan perilaku (Santrock, 2011). Pengajar dan tutor harus dapat membuat siswa termotivasi untuk mengerjakan soal-soal yang telah diberikan. Upaya yang dapat dilakukan dapat menggunakan pemberian incentive yang berupa reinforcement, seperti memberikan stiker berbentuk bintang bagi siswa yang telah selesai mengerjakan soal. Dalam mengatasi kebosanan siswa, pengajar dan tutor dapat mengajak siswa bermain-main dengan alat bantu, lalu mengajak siswa untuk melanjutkan mengerjakan soal yang belum selesai.
     Agar siswa tidak merasa jenuh, gambar di lembar kerja siswa tidak hanya bola, melainkan gambar-gambar lain seperti kue, boneka, atau bebek. Pengajar dan tutor juga dapat membuat soal cerita yang menarik perhatian siswa. Untuk mengatasi perbedaan individual dalam belajar, pengajar dan tutor dapat memfokuskan diri pada siswa slow learner, namun tidak mengabaikan siswa yang fast learner. Pembagian kelompok juga dengan mempertimbangkan kemampuan siswa sehingga dalam satu kelompok ada siswa yang slow learner dan fast learner.
     Agar siswa mampu mentransfer apa yang telah ia pelajari di kelas ke luar kelas, pengajar dan tutor dapat mengajak siswa menjumlahkan benda-benda yang berada di luar kelas, seperti jumlah sepeda, pot bunga, atau benda-benda lainnya. Bentuk transfer yang dilakukan siswa masih berupa near transfer, yaitu transfer perilaku dalam situasi yang mirip, high-road transfer, yaitu transfer yang dilakukan secara sadar dan butuh usaha, dan forward reaching transfer, yaitu transfer yang muncul ketika individu akan mengaplikasikan apa yang telah ia pelajari pada situasi mendatang (Santrock, 2011).
     Pengajar juga perlu mempertimbangkan aspek-aspek afektif dan psikomotor siswa. Dalam aspek afektif, pengajar dan tutor perlu mengajak siswa hingga setidaknya mencapai tahap menghargai, yaitu siswa terlibat atau berkomitmen dalam beberapa pengalaman, sementara dalam aspek psikomotor, siswa diharapkan setidaknya memiliki kemampuan perseptual, yaitu mampu menggunakan indera untuk melakukan sesuatu yang berguna untuk mengembangkan kemampuan mereka (Santrock, 2011).
3.7 Pedoman Evaluasi Pencapaian Tujuan Program
     Pengajar dapat mengevaluasi pencapaian tujuan program dengan memeriksa jawaban dari soal yang telah diberikan sebelumnya. Penulis menggunakan criterion-reference grading,  yaitu sistem penilaian yang didasari oleh nilai tertentu dan kriteria yang harus dikuasai tanpa membandingkan nilai antar siswa (Santrock, 2011).
    Bila seorang siswa mendapatkan nilai antara 75 sampa 100, maka siswa telah mampu memahami dan mengaplikasikan penjumlahan. Keberhasilan tujuan program dapat dilihat bila persentase siswa yang dapat memahami dan mengaplikasikan penjumlahan lebih dari 50%. Angka ini didapat dari prinsip normal distribution, yaitu hanya sedikit siswa yang mendapatkan nilai yang sangat rendah dan sangat tinggi, sementara sebagian besar siswa mendapatkan nilai rata-rata (Santrock, 2011).

Bab 4 Penutup
     Penulis sadar bahwa Program Pendidikan Penjumlahan Pada Anak TK A  ini belum sempurna. Keunggulan dari program ini adalah anak menjadi paham tentang penjumlahan dan mampu melakukannya dengan baik dan benar, selain itu, program ini juga tidak terbatas untuk pengajar, tetapi juga dapat diterapkan oleh orang tua yang ingin mengajarkan anaknya tentang penjumlahan. Kelemahan dari program ini adalah program ini hanya terbatas pada satu sesi, sehingga ada kemungkinan ada beberapa siswa yang belum benar-benar paham tentang penjumlahan atau tidak tergambarkan seluruhnya, dan tujuan program tidak terlalu banyak.
     Dalam pelaksanaan program ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu dalam program ini dibutuhkan pengajar dan beberapa tutor, dan masing-masing pengajar dan tutor menangani maksimal empat orang anak. Satu kelas disarankan hanya memuat maksimal dua puluh orang anak sehingga kelas tidak terlalu padat.

     Makalah ini memiliki keunggulan dan kelemahan. Keunggulan dari makalah ini adalah makalah ini dapat menjadi referensi untuk mengajarkan penjumlahan pada anak TK A yang berusia empat sampai lima tahun. Kelemahan dari makalah ini adalah makalah ini masih sangat sederhana dan kurang lengkap, terutama dalam data-data tentang siswa TK A di Indonesia.

Daftar Pustaka
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus besar bahasa Indonesia pusat bahasa (ed. 4). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Ekawati, Estina. (2011, 5 Oktober). Peran, fungsi, tujuan, dan karakteristik matematika sekolah. Diunduh dari http://p4tkmatematika.org/2011/10/peran-fungsi-tujuan-dan-karakteristik-matematika-sekolah/
Papalia, E. D. & Feldman, R. D. (2012). Experience human development (12th ed.). New York, NY: Mc-Graw Hill
Santrock, J. W. (2011). Educational psychology (5th ed.). New York, NY: Mc-Graw Hill
Siregar, R. J. (n.d.). Golden age atau masa keemasan. Diunduh dari http://pelangi.mizan.com/index.php?fuseaction=news_det&id=237

Soal-soal yang Diberikan
Soal 1
Soal 2
Soal 3
Soal 4
Contoh soal 1
Contoh soal 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar