Ini adalah tugas akhir Blok Psikologi Pendidikan gue. Daripada numpuk doang di laptop gue, mending dibagiin di sini. Siapa tau berguna.
Rancangan Program Pendidikan Penjumlahan Pada Anak TK A
Bab 1
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Penyusunan Makalah
Menurut Departemen
Pendidikan Nasional, makalah
berarti karya tulis pelajar atau mahasiswa sebagai laporan hasil
pelaksanaan tugas sekolah atau perpengajaran tinggi (2008). Sebagai
mahasiswi yang menjalani Blok Psikologi Pendidikan, penulis diharapkan mampu
untuk menerapkan apa yang telah dipelajari di kelas ke dalam dunia nyata.
Adapun psikologi pendidikan adalah cabang dari psikologi yang mendalami
pengertian mengajar dan belajar dalam setting
edukasional (Santrock, 2011). Oleh karena itu, penulis menyusun makalah ini
sebagai hasil penerapan hal-hal yang telah dipelajari oleh penulis dari Blok
Psikologi Pendidikan.
1.2 Tujuan
Penyusunan Makalah
Makalah
ini disusun oleh penulis agar dapat menjadi referensi rancangan program
pendidikan penjumlahan pada anak TK A dengan cara mengajar yang efektif. Selain
itu, penulis juga berharap bahwa dengan menyusun makalah ini, penulis dapat
meningkatkan kemampuannya dalam membuat rancangan program pendidikan sehingga
untuk ke depannya penulis dapat menyusun rancangan program pendidikan yang
lebih baik lagi.
Bab 2
Landasan dalam Penyusunan Program
2.1 Latar Belakang Penyusunan Program
Matematika
adalah ilmu tentang bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur
operasional yg digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan,
sementara penjumlahan adalah proses, cara, perbuatan menghitung berapa
banyaknya benda yang dikumpulkan menjadi satu (Departemen Pendidikan Nasional,
2008).
Penulis
memilih mata pelajaran matematika karena menurut penulis, matematika adalah
pelajaran yang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan praktis dan memecahkan
masalah dalam kehidupan sehari-hari, misalnya untuk berbelanja. Fungsi
matematika adalah untuk mengembangkan kemampuan berhitung, mengukur, menurunkan
rumus dan menggunakan rumus matematika yang diperlukan dalam kehidupan
sehari-hari melalui pengukuran dan geometri, aljabar, peluang dan statistika,
kalkulus, dan trigonometri, serta untuk mengembangkan kemampuan
mengkomunikasikan gagasan melalui model matematika, diagram, grafik, atau tabel
(Ekawati, 2011).
Penulis
memilih anak TK A karena anak TK A berusia sekitar empat sampai lima tahun.
Usia ini adalah waktu ideal bagi anak untuk mempelajari berbagai keterampilan,
membentuk kebiasaan-kebiasaan, dan memperoleh konsep-konsep dasar untuk
memahami diri dan lingkungan sekitar (Siregar, n.d.).
2.2 Tujuan Penyusunan Program
Tujuan
penyusunan Program Pendidikan Penjumlahan Pada Anak TK A adalah agar anak-anak TK dapat memahami
penjumlahan dan mengaplikasikannya di dunia nyata.
2.3 Analisis Karakteristik Kompetensi
Karakteristik
kompetensi yang diinginkan oleh penulis adalah kemampuan untuk menjumlahkan
sampai sepuluh benda (jumlah benda tidak melebihi sepuluh buah). Kebanyakan
siswa pada masa tingkatan Taman Kanak-kanak
yang berasal dari keluarga menengah ke atas telah dapat menghitung lebih
dari 20, banyak juga yang dapat menghitung sampai lebih dari 100, mampu
menghitung dengan tepat jumlah barang, mengetahui nilai dari angka (misalnya, 8
lebih besar dari 6), dan mampu melakukan pengurangan serta penjumlahan satu
digit (Siegler & Robinson, dikutip dalam Santrock, 2011). Siswa baru
diajarkan penjumlahan sampai sepuluh benda sebagai persiapan agar mengerti
dasar-dasar dari penjumlahan karena pendalaman tentang penjumlahan akan
dilakukan di TK B.
2.4 Analisis Karakteristik Pengajar
Dalam
program ini, dibutuhkan bantuan beberapa tutor dalam satu kelas. Tutor dapat
merupakan sukarelawan, mentor, atau pengajar lain. Karakteristik pengajar dan
tutor yang dibutuhkan adalah memiliki
kemampuan effective teaching yang
terdiri atas professional knowledge and skills serta
komitmen, motivasi, dan kepedulian.
Professional
knowledge and skills meliputi menguasai materi yang
diajarkan (penjumlahan), memahami pendekatan learner-centered dan teacher-centered, mampu
berpikir kritis, mampu menentukan tujuan dan membuat perencanaan belajar, dapat
mengajar sesuai dengan perkembangan anak, dapat mengatur keadaan kelas, mampu
memotivasi siswa, memilii kemampuan komunikasi yang baik, peduli terhadap
perbedaan individual, dapat mengajar
siswa-siswa yang berasal dari latar belakang yang berlainan, memiliki
kemampuan dan pengetahuan tentang pemberian tugas dan ujian, serta menguasai
teknologi (Santrock, 2011).
Penulis
menyarankan agar para pengajar dan tutor dapat menjadi komunikator yang baik,
yaitu memiliki kemampuan berbicara, kemampuan mendengarkan, dan komunikasi
nonverbal.
Ada
beberapa strategi agar dapat berbicara secara jelas dengan siswa yaitu
menggunakan bahasa yang sesuai dengan usia siswa (tidak menggunakan bahasa yang
terlalu sulit untuk anak TK), berbicara dengan tempo yang tidak terlalu cepat
atau lambat, menghindari ketidakjelasan dalam komunikasi, dan menggunakan
kemampuan perencanaan dan berpikir logis (Florez, dikutip dalam Santrock,
2011).
Untuk
menjadi komunikator yang baik, pengajar dan tutor juga harus memiliki kemampuan
mendengarkan yang baik dengan menggunakan active
listening, yaitu memberikan perhatian penuh pada pembicara dan
memperhatikan isi pesan yang bersifat intelektual dan emosional (Santrock,
2011).
Dalam hal
komunikasi nonverbal, pengajar dan tutor harus dapat mengerti petunjuk-petunjuk
yang diberikan oleh siswa melalui gerak tubuh, ekspresi wajah, personal
space, dan kesunyian (Santrock, 2011). Pengajar dan tutor juga
diharapkan untuk berbicara dengan siswa dengan melakukan kontak mata.
Pengajar
dan tutor diharapkan mampu membuat kelas menjadi menarik, mau mendengarkan
siswanya, adil, jujur, mampu menepati janjinya, memperlakukan siswa seperti
teman, dan memastikan bahwa semua siswa memahami apa yang diajarkan (Santrock,
2011). Pengajar dan tutor juga harus mampu mengelola kelas dengan gaya
pengelolaan otoritatif, yaitu gaya pengelolaan kelas yang memberikan siswa
kebebasan dalam berpikir dan bertindak dengan tetap memonitor mereka, dan mampu
menunjukkan bahwa pengajar peduli pada siswa (Santrock, 2011).
2.5 Analisis Karakteristik Siswa
Program
ini disusun untuk siswa yang telah dapat mengenali angka, dapat menpengajartkan
angka dari yang terkecil hingga terbesar, dan dapat menghitung jumlah benda.
Siswa juga tidak memiliki learning disabilities, yaitu
memiliki kesulitan dalam belajar yang meliputi pemahaman dan penggunaan bahasa,
dalam mendengarkan, berpikir, membaca, menulis, mengeja dan dalam perhitungan
matematika. (Santrock, 2011). Dalam aspek psikomotor, siswa diharapkan
setidaknya memiliki kemampuan perseptual, yaitu mampu menggunakan indera untuk
melakukan sesuatu untuk membimbing kemampuan mereka (Santrock, 2011). Contoh
kemampuan perseptual dalam program ini adalah siswa mampu menggunakan matanya
untuk melihat dan telinganya untuk mendengar penjelasan pengajar agar
mengetahui cara menjumlahkan.
Siswa yang
akan diajarkan adalah siswa yang berusia empat sampai lima tahun. Menurut tahap
perkembangan Piaget, pada usia ini anak sedang berada pada tahap preoperational, yaitu
tahap saat pemikiran simbolik telah berkembang, tetapi anak masih belum dapat
menggunakan logika. Pada tahap
ini anak sudah dapat menghitung dan memiliki ordinality atau
konsep dalam membandingkan jumlah
(Papalia & Feldman, 2012).
Dalam
tahap perkembangan Erikson, anak sedang berada pada tahap initiative
versus guilt, yaitu anak mengembangkan inisiatif saat melakukan
aktivitas baru dan rasa bersalah (Papalia & Feldman, 2012). Bila anak
selalu dilarang atau dimarahi saat sedang berinisiatif, maka anak tersebut akan
lebih mengembangkan rasa bersalahnya, oleh karena itu, dalam program ini, siswa
lebih ditekankan untuk berinisiatif, dan pengajar serta membantunya saat ia
melakukan kesalahan, bukan memarahinya.
2.6 Analisis Pendekatan Belajar
Pendekatan
belajar yang digunakan sebagai dasar program oleh penulis adalah pendekatan social
constructivist dari Vygotsky, yaitu pendekatan yang menekankan pada
konteks sosial dari belajar dan bahwa pengetahuan dibangun dan dikonstruksi
bersama-sama (Santrock, 2011). Dalam program ini, penulis menekankan pada peran
pengajar yang hanya menjadi seorang fasilitator saat para siswa sedang
mengerjakan soal dengan menggunakan scaffolding dan tutoring.
Meskipun
demikian, program ini tidak hanya menggunakan pendekatan social
constructivist saja. Penulis juga menggunakan pendekatan behavioral yang menekankan pada pengalaman dan
konsekuensi (Santrock, 2011). Bentuk pendekatan behavioral
yang digunakan oleh penulis adalah pemberian reinforcement bagi
siswa yang telah menyelesaikan tugasnya.
2.7 Analisis Aktivitas Belajar
Dalam
program ini, penulis menggunakan pendekatan teacher-centered dan learner-centered. Awalnya, penulis menggunakan pendekatan teacher-centered saat akan
mengajarkan pelajaran baru (penjumlahan) pada siswa. Penulis menggunakan
strategi comparative advance organizers, yaitu
memperkenalkan materi baru (penjumlahan) dengan menghubungkannya dengan
pengetahuan siswa sebelumnya (mengenal angka, menghitung jumlah benda), dan
memberikan penjelasan serta demonstrasi di kelas (Santrock, 2011).
Penulis
juga menggunakan behavoral objectives dalam
perencaannya. Behavioral objectives adalah
pernyataan-pernyataan tentang perubahan yang diinginkan pengajar dalam performa
siswanya (Borich, dikutip dalam Santrock, 2011). Ada tiga bagian dari behavioral
objectives, yaitu perilaku siswa, kondisi kemunculan perilaku, dan
kirteria performa (Mager, dikutip dalam Santrock, 2011).
Dalam
program ini, penulis berharap siswa dapat memahami dan mengaplikasikan
penjumlahan (perilaku siswa), penulis
berencana untuk memberikan soal-soal untuk siswa (kondisi kemunculan perilaku),
dan penulis memutuskan bahwa siswa harus dapat mengerjakan paling sedikit tiga
buah soal dengan benar (kriteria performa).
Setelah
memperkenalkan materi baru kepada siswa menggunakan pendekatan teacher-centered, pengajar
kemudian menggunaan pendekatan learner-centered. Pendekatan
learner-centered yang digunakan oleh penulis adalah
pendekatan-pendekatan yang berkaitan dengan social
constructivist, yaitu tutoring, yang
merupakan hubungan yang terbentuk karena ahli (pengajar, tutor) dapat mendukung
kemampuan pemula (siswa), dan scaffolding, yang
merupakan teknik yang merubah tingkatan dukungan belajar secara bertahap.
(Santrock, 2011).
Pengajar
menjadi fasilitator dalam kegiatan pembelajaran saat anak mencoba menyelesaikan
soal-soal yang diberikan. Dibutuhkan beberapa tutor, karena
akan sulit untuk membantu setiap anak satu per satu. Satu orang tutor membantu
maksimal empat orang anak. Sukarelawan, mentor, atau pengajar lain dapat
bertindak sebagai tutor.
Penulis
juga menggunakan operant conditioning, yaitu
pembelajaran yang menggunakan konsekuensi perilaku untuk mengubah kemungkinan
munculnya perilaku tersebut (Santrock, 2011). Dalam program ini, penulis
menggunakan operant conditioning saat
siswa sudah selesai mengerjakan soal-soal yang diberikan. Setiap siswa yang
sudah selesai, bukunya akan ditempelkan satu buah stiker berbentuk bintang.
2.8 Analisis Evaluasi Belajar
Evaluasi
belajar dilakukan dengan memberikan siswa empat buah soal latihan constructed-response
item, yaitu soal-soal yang jawabannya harus ditulis sendiri oleh
siswa, bukan hanya dipilih (Santrock, 2011). Bentuk constructed-response
item yang penulis pakai adalah short-answer
item, yaitu siswa hanya perlu memberikan jawaban dalam bentuk
sebuah kata, kalimat singkat, atau beberapa kalimat (Santrock, 2011). Penulis
menggunakan short-answer item karena
siswa mendapatkan jawabannya dari melakukan penjumlahan secara langsung dengan
menggunakan alat bantu sehingga tidak perlu menuliskan caranya.
Soal yang
diberikan adalah soal-soal yang memiliki content validity, yaitu
kemampuan tes untuk mewakili konten yang akan diukur, dan instructional
validity, yaitu soal yang diberikan merupakan sampel dari yang
dilakukan di kelas (Santrock, 2011). Soal dapat dikatakan memiliki content
validity karena konten yang ditanyakan dalam soal sama dengan konten
yang akan diukur, yaitu penjumlahan, sementara soal dapat dikatakan memiliki instructional
validity karena soal yang diberikan untuk latihan mirip seperti soal
contoh yang telah diberikan oleh pengajar sebelumnya.
Jenis soal
yang digunakan adalah criterion-referenced test, yaitu tes
yang membandingkan performa siswa dengan kriteria tertentu (Santrock, 2011).
Penulis menggunakan criterion-referenced test karena bila menggunakan norm-referenced
test, kompetensi pelajaran dapat berkurang. Nilai
siswa berskala antara 0-100, dengan masing-masing soal bernilai 25. Nilai tidak
dituliskan di lembar kerja siswa dan hanya dituliskan di buku nilai pengajar.
Hasil
latihan kemudian akan dikumpulkan bersama dengan hasil-hasil latihan yang
lainnya agar siswa dan orang tua siswa dapat meninjau ulang apa yang telah
dipelajari selama di Taman Kanak-kanak. Prinsip pengumpulan tugas ini diambil
dari prinsip portfolio, yaitu kumpulan karya siswa yang
disimpan dan diorganisir secara sistematis untuk mendemonstrasikan kemampuan
dan pencapaian siswa (Santrock, 2011). Namun, pengumpulan ini bukan merupakan portfolio karena
portfolio berisi tugas-tugas tertentu, sementara yang dikumpulkan oleh penulis
adalah hasil latihan berbentuk traditional test.
Hasil
latihan juga akan dimasukkan ke dalam written progress report, yaitu
laporan tertulis yang meliputi hasil tes, kuis, proyek, dan tugas-tugas lain
siswa yang akan diberikan kepada orang tua setiap satu periode tertentu, dalam
program ini berarti seminggu sekali (Santrock, 2011).
Bab 3
Program Pendidikan Penjumlahan Pada Anak TK A
3.1 Tujuan Program
Tujuan
dari program ini adalah agar siswa dapat
memahami penjumlahan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Dalam
Taksonomi Bloom, memahami berarti siswa dapat mengerti dan menjelaskan kembali
informasi dengan bahasa mereka sendiri, sementara mengaplikasikan berarti siswa
dapat menggunakan pengetahuan yang ia dapat untuk menyelesaikan masalah di
kehidupan nyata (Santrock, 2011). Jadi, penulis ingin agar para siswa dapat
mengerti tentang penjumahan, dan dapat mengaplikasikannya dalam dunia nyata,
misalnya saat menjumlahkan barang-barang yang ia miliki.
3.2 Jangka Waktu Pelaksanaan
Program
ini hanya disusun untuk satu sesi, yaitu sekitar tiga puluh menit, karena
jangka waktu perhatian anak berusia empat sampai lima tahun masih terbatas
(Santrock, 2011).
3.3 Kondisi Tempat Pelaksanaan
Dalam
pelaksanaan program ini, kondisi yang ideal adalah ruangan kelas dengan
pencahayaan yang cukup, suhu ruangan berkisar antara delapan belas sampai dua
puluh empat derajat celcius agar siswa tidak kepanasan, dan tingkat kebisingan
eksternal yang rendah agar konsentrasi siswa tidak terpecah.
Akan lebih
baik bila di dalam kelas ada beberapa meja besar, dan di setiap meja ada empat
orang siswa serta satu pengajar atau tutor. Jumlah meja beragam tergantung
jumlah siswa, tetapi penulis menyarankan agar jumlah siswa dalam satu kelas
tidak melebihi 20 siswa. Posisi meja diatur dengan offset
style, yaitu gaya pengaturan kelas yang menempatkan beberapa siswa
duduk bersama di satu meja tetapi tidak saling berhadapan (Santrock, 2011).
Penulis
menggunakan offset syle untuk mengurangi kemungkinan gangguan
oleh teman sebaya yang akan muncul bila menggunakan face-to-face
style. Meskipun menggunakan offset
style, ketika pengajar sedang menerangkan maka posisi kursi siswa
akan diubah menjadi auditorium style,
yaitu semua siswa menghadap ke depan sehingga dapat memperhatikan dengan baik.
![]() |
| Gambar 3.1. Contoh pengaturan posisi kelas saat pengajar menerangkan. |
![]() |
Gambar 3.2. Contoh pengaturan posisi kelas saat mengerjakan tugas.
|
3.4 Materi dan Perlengkapan
Materi
untuk program ini adalah materi penjumlahan sampai sepuluh (hasil penjumlahan
tidak melebihi sepuluh). Perlengkapan yang dibutuhkan dalam program ini adalah
satu buah kotak bening dan sepuluh buah bola untuk masing-masing siswa. Bila di
dalam kelas ada dua puluh orang siswa, maka bila ditambah jumlah pengajar,
dibutuhkan dua puluh lima kotak bening dan dua ratus lima puluh buah bola. Bola
dapat diganti menjadi benda-benda lain, seperti koin atau kancing, meskipun
penulis menyarankan pengajar dan tutor untuk menggunakan benda yang berukuran
cukup besar agar mudah dihitung olehh siswa.
3.5 Prosedur Pelaksanaan Program
Tabel 3.1
Prosedur Pelaksanaan Program Penjumlahan
Pada Anak TK A
No.
|
Tujuan
Instruksional
|
Waktu
|
Kegiatan
|
Keterangan
|
1
|
Agar siswa mengetahui
apa yang akan mereka pelajari.
|
Pk. 8.30 – Pk. 8.31
|
Pengajar maju ke depan
kelas dan memberitahu bahwa hari ini mereka akan belajar tentang penjumlahan
sementara para tutor membagikan lembar soal pada murid.
|
-
|
2
|
Siswa dapat memahami
cara menyelesaikan soal penjumlahan menggunakan alat bantu.
|
Pk. 8.31 – Pk. 8.35
|
Pengajar membacakan contoh soal penjumlahan yang telah ada di
lembar kerja siswa dan menyelesaikannya bersama siswa dengan menggunakan alat
bantu.
|
Alat bantu yang
digunakan adalah kotak bening, bola, dan papan tulis.
Setelah siswa memberikan jawaban, pengajar menuliskannya di papan
tulis.
|
3
|
Siswa dapat memahami
cara menyelesaikan soal penjumlahan menggunakan alat bantu bersama-sama
dengan pengajar.
|
Pk. 8.35 – Pk. 8.39
|
Pengajar membacakan
contoh soal penjumlahan lain yang telah ada di lembar kerja siswa.
Pengajar mengangkat bola dan meminta anak untuk menghitungnya.
|
|
4
|
Siswa dapat mencoba
sendiri cara menyelesaikan soal penjumlahan menggunakan alat bantu.
|
Pk. 8.39 – Pk. 8.55
|
Pengajar meminta siswa
mencoba menyelesaikan soal-soal lain yang ada di lembar kerja dengan
menggunakan kotak bening dan bola
|
Jumlah soal hanya empat.
Pengajar dan tutor hanya berfungsi sebagai fasilitator. Setiap pengajar dan
tutor menangani maksimal empat orang siswa.
|
5
|
Siswa
merasa hasil perhitungannya dihargai. Juga agar pengajar dapat melakukan
evaluasi
pencapaian tujuan
program.
|
Pk. 8.55 – Pk. 9.00
|
Pengajar dan tutor
memeriksa hasil pekerjaan siswa yang telah selesai. Setiap siswa yang telah
selesai diberikan stiker berbentuk bintang untuk ditempel dibukunya.
|
Stiker
berbentuk bintang digunakan sebagai reinforcement agar siswa mau
mengerjakan penjumlahan lagi di sesi-sesi selanjutnya.
|
Saat
pengajar memberikan soal, ia tidak hanya menyebutkan angka-angka, tetapi juga
membuat cerita.
Contohnya,
“Ibu memberikan tiga buah bola kepada Budi,” pengajar mengajak siswa menghitung
dan memasukkan tiga buah bola ke dalam kotak lalu menulis angka tiga di papan
tulis serta meminta siswa menuliskan angka tiga juga di lembar kerja mereka,
“lalu Ayah memberikan Budi dua buah bola,” pengajar mengajak siswa menghitung
dan memasukkan dua buah bola ke dalam kotak lalu menulis tanda tambah dan angka
dua di papan tulis serta meminta siswa menuliskan tanda tambah dan angka dua
juga di lembar kerja mereka.
“Berapa
jumlah bola Budi sekarang?” Pengajar mengeluarkan bola yang berada di dalam
kotak satu per satu sambil menghitungnya bersama siswa, lalu menuliskan jumlahnya
di papan tulis serta meminta siswa menuliskannya juga di lembar kerja mereka.
Saat
pengajar memberikan soal contoh untuk aktivitas nomor 3, pengajar tetap
menggunakan bola dan kotak bening, tetapi ia tidak menghitungnya bersama-sama
dengan siswa, ia meminta siswa untuk menghitung jumlah bola yang ia masukkan
dan keluarkan dari dalam kotak.
![]() |
| Gambar 3.3. Kondisi awal peralatan. Papan tulis dan kotak kosong. |
![]() Gambar 3.4. Pengajar mulai menghitung bola. Pengajar memasukkan tiga buah bola dan menulis “3” di papan tulis. |
![]() Gambar 3.5. Pengajar menambahkan bola. Pengajar memasukkan dua bola lagi dan menambahkan “+ 2” di papan. |
![]() Gambar 3.6. Pengajar menjumlahkan bola. Pengajar mengeluarkan bola didalam kotak sambil menghitungnya, lalu menambahkan “= 5” di papan tulis. |
Bila
benda yang ada di dalam soal bukan bola, maka sebelumnya pengajar harus
menjelaskan terlebih dahulu pada siswa bahwa bola tersebut dimisalkan sebagai
benda lain agar siswa tidak bingung.
3.6 Aspek-aspek yang Perlu
Dipertimbangkan dan Upaya yang Dapat Dilakukan
Aspek-aspek
yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan program ini adalah motivasi siswa,
kejenuhan, kebosanan, perbedaan individual siswa dalam belajar, dan kemampuan
siswa untuk mentransfer dan menggeneralisir dari situasi belajar ke situasi
sesungguhnya di luar kelas.
Motivasi
adalah proses-proses yang mendorong, mengarahkan, dan mempertahankan perilaku
(Santrock, 2011). Pengajar dan tutor harus dapat membuat siswa termotivasi
untuk mengerjakan soal-soal yang telah diberikan. Upaya yang dapat dilakukan
dapat menggunakan pemberian incentive yang
berupa reinforcement, seperti memberikan stiker berbentuk
bintang bagi siswa yang telah selesai mengerjakan soal. Dalam mengatasi
kebosanan siswa, pengajar dan tutor dapat mengajak siswa bermain-main dengan
alat bantu, lalu mengajak siswa untuk melanjutkan mengerjakan soal yang belum
selesai.
Agar
siswa tidak merasa jenuh, gambar di lembar kerja siswa tidak hanya bola,
melainkan gambar-gambar lain seperti kue, boneka, atau bebek. Pengajar dan
tutor juga dapat membuat soal cerita yang menarik perhatian siswa. Untuk
mengatasi perbedaan individual dalam belajar, pengajar dan tutor dapat
memfokuskan diri pada siswa slow learner, namun
tidak mengabaikan siswa yang fast learner.
Pembagian kelompok juga dengan mempertimbangkan kemampuan siswa sehingga dalam
satu kelompok ada siswa yang slow learner dan fast
learner.
Agar
siswa mampu mentransfer apa yang telah ia pelajari di kelas ke luar kelas,
pengajar dan tutor dapat mengajak siswa menjumlahkan benda-benda yang berada di
luar kelas, seperti jumlah sepeda, pot bunga, atau benda-benda lainnya. Bentuk
transfer yang dilakukan siswa masih berupa near
transfer, yaitu transfer perilaku dalam situasi yang mirip, high-road transfer, yaitu transfer yang
dilakukan secara sadar dan butuh usaha, dan forward
reaching transfer, yaitu transfer yang muncul ketika individu akan
mengaplikasikan apa yang telah ia pelajari pada situasi mendatang (Santrock,
2011).
Pengajar
juga perlu mempertimbangkan aspek-aspek afektif dan psikomotor siswa. Dalam
aspek afektif, pengajar dan tutor perlu mengajak siswa hingga setidaknya
mencapai tahap menghargai, yaitu siswa terlibat atau berkomitmen dalam beberapa
pengalaman, sementara dalam aspek psikomotor, siswa diharapkan setidaknya
memiliki kemampuan perseptual, yaitu mampu menggunakan indera untuk melakukan
sesuatu yang berguna untuk mengembangkan kemampuan mereka (Santrock, 2011).
3.7 Pedoman Evaluasi Pencapaian
Tujuan Program
Pengajar
dapat mengevaluasi pencapaian tujuan program dengan memeriksa jawaban dari soal
yang telah diberikan sebelumnya. Penulis menggunakan criterion-reference
grading, yaitu sistem penilaian
yang didasari oleh nilai tertentu dan kriteria yang harus dikuasai tanpa
membandingkan nilai antar siswa (Santrock, 2011).
Bila seorang siswa mendapatkan nilai antara
75 sampa 100, maka siswa telah mampu memahami dan mengaplikasikan penjumlahan.
Keberhasilan tujuan program dapat dilihat bila persentase siswa yang dapat
memahami dan mengaplikasikan penjumlahan lebih dari 50%. Angka ini didapat dari
prinsip normal distribution, yaitu
hanya sedikit siswa yang mendapatkan nilai yang sangat rendah dan sangat
tinggi, sementara sebagian besar siswa mendapatkan nilai rata-rata (Santrock,
2011).
Bab 4 Penutup
Penulis
sadar bahwa Program Pendidikan Penjumlahan Pada Anak TK A ini belum sempurna. Keunggulan dari program
ini adalah anak menjadi paham tentang penjumlahan dan mampu melakukannya dengan
baik dan benar, selain itu, program ini juga tidak terbatas untuk pengajar,
tetapi juga dapat diterapkan oleh orang tua yang ingin mengajarkan anaknya
tentang penjumlahan. Kelemahan dari program ini adalah program
ini hanya terbatas pada satu sesi, sehingga ada kemungkinan ada beberapa siswa
yang belum benar-benar paham tentang penjumlahan atau tidak tergambarkan seluruhnya, dan tujuan program tidak terlalu banyak.
Dalam
pelaksanaan program ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu dalam
program ini dibutuhkan pengajar dan beberapa tutor, dan masing-masing pengajar
dan tutor menangani maksimal empat orang anak. Satu kelas disarankan hanya
memuat maksimal dua puluh orang anak sehingga kelas tidak terlalu padat.
Makalah
ini memiliki keunggulan dan kelemahan. Keunggulan dari makalah ini adalah
makalah ini dapat menjadi referensi untuk mengajarkan penjumlahan pada anak TK
A yang berusia empat sampai lima tahun. Kelemahan dari makalah ini adalah
makalah ini masih sangat sederhana dan kurang lengkap, terutama dalam data-data
tentang siswa TK A di Indonesia.
Daftar Pustaka
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus
besar bahasa Indonesia pusat bahasa (ed. 4). Jakarta:
PT Gramedia Pustaka Utama.
Ekawati, Estina. (2011, 5 Oktober). Peran, fungsi, tujuan, dan
karakteristik matematika sekolah. Diunduh dari http://p4tkmatematika.org/2011/10/peran-fungsi-tujuan-dan-karakteristik-matematika-sekolah/
Papalia, E. D. & Feldman, R. D. (2012). Experience
human development (12th ed.). New York, NY: Mc-Graw Hill
Santrock, J. W. (2011). Educational psychology (5th ed.). New
York, NY: Mc-Graw Hill
Siregar, R. J. (n.d.). Golden age atau masa keemasan. Diunduh dari
http://pelangi.mizan.com/index.php?fuseaction=news_det&id=237
Soal-soal yang Diberikan
![]() |
| Soal 1 |
![]() |
| Soal 2 |
![]() |
| Soal 3 |
![]() |
| Soal 4 |
![]() |
| Contoh soal 1 |
![]() |
| Contoh soal 2 |












Tidak ada komentar:
Posting Komentar