PENDAHULUAN
Dewasa ini, sudah
banyak orang-orang yang menyatakan diri sebagai seorang homoseksual. Tidak
sedikit dari orang-orang ini merupakan umat Kristen, terlebih lagi di
negara-negara Barat seperti Amerika. Beberapa gereja bahkan telah setuju untuk
melakukan upacara pernikahan bagi para gay
dan lesbian.
Tentu saja hal ini
merupakan sebuah kontroversi. Sebagian orang mengatakan bahwa hubungan
homoseksual adalah dosa, sementara sebagian lain mengatakan bahwa hubungan
homoseksual merupakan hubungan yang sama seperti hubungan heteroseksual
sehingga bukan merupakan suatu dosa. Bagaimana sebenarnya pandangan kekristenan
mengenai homoseksual?
Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonseia Darlam Jaringan (n.d.) homoseksual adalah keadaan saat seseorang merasa tertarik dengan
orang lain yang berjenis kelamin sama dengan dirinya. Perempuan yang
homoseksual disebut lesbian,
sementara laki-laki homoseksual disebut gay.
Pada tahun 1974, American Psychiatry Association
menghapuskan homoseksual dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) yang merupakan buku berisi panduan mengenai kelainan
mental (Hickey, 2011). Dengan dihapuskannya homoseksual dari DSM, maka
homoseksual secara resmi dikategorikan sebagai sesuatu yang normal dan bukan
merupakan kelainan mental.
Hubungan homoseksual
sudah ada sejak lama. Pada zaman Yunani Kuno, adalah hal yang wajar bila
seorang laki-laki dewasa mengambil seorang anak laki-laki atau laki-laki muda
sebagai kekasihnya. Laki-laki yang lebih tua, disebut erastes, akan menjadi pihak agresif sekaligus mentor bagi laki-laki
yang lebih muda, yang disebut eromenos
atau paidika. Namun hubungan ini akan
berakhir ketika erosmenos menginjak
usia dewasa. Pada negara lain seperti Roma juga terdapat literatur-literatur
mengenai hubungan homoseksual, meskipun seiring berjalannya waktu, masyarakat
Roma mulai menganggap hubungan homoseksual sebagai sesuatu yang abnormal dan
menghukum kaum homoseksual (Pickett, 2011).
Meskipun tidak banyak disebut
dalam sejarah, namun hubungan homoseksual antarperempuan juga telah ada sejak
lama. Salah satu sumber yang paling dikenal adalah Sappho yang berasal dari
Pulau Lesbos, yang menjadi asal kata dari lesbian
(“Lesbian
relationships originated in ancient Greece on Lesbos Island”, 2007).
Di Indonesia sendiri
homoseksualitas juga sudah dikenal sejak lama. Sebelum agama-agama besar masuk
ke Indonesia, masyarakat Indonesia masih menjalankan ritual-ritual adat yang
berhubungan erat dengan homoseksualitas. Contohnya adalah kelompok Bissu,
Calabai, dan Calalai dalam Suku Bugis dan hubungan Warok-Gemblak di Ponorogo,
yang sekarang menjadi langka karena dianggap menyimpang oleh agama-agama besar
dan pemerintah (Reksodirdjo, 2011).