Minggu, 27 Desember 2015

Pro dan Kontra Mengenai Homoseksualitas dalam Iman Kristen

PENDAHULUAN
Dewasa ini, sudah banyak orang-orang yang menyatakan diri sebagai seorang homoseksual. Tidak sedikit dari orang-orang ini merupakan umat Kristen, terlebih lagi di negara-negara Barat seperti Amerika. Beberapa gereja bahkan telah setuju untuk melakukan upacara pernikahan bagi para gay dan lesbian.
Tentu saja hal ini merupakan sebuah kontroversi. Sebagian orang mengatakan bahwa hubungan homoseksual adalah dosa, sementara sebagian lain mengatakan bahwa hubungan homoseksual merupakan hubungan yang sama seperti hubungan heteroseksual sehingga bukan merupakan suatu dosa. Bagaimana sebenarnya pandangan kekristenan mengenai homoseksual?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonseia Darlam Jaringan (n.d.) homoseksual adalah  keadaan saat seseorang merasa tertarik dengan orang lain yang berjenis kelamin sama dengan dirinya. Perempuan yang homoseksual disebut lesbian, sementara laki-laki homoseksual disebut gay.
Pada tahun 1974, American Psychiatry Association menghapuskan homoseksual dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) yang merupakan buku berisi panduan mengenai kelainan mental (Hickey, 2011). Dengan dihapuskannya homoseksual dari DSM, maka homoseksual secara resmi dikategorikan sebagai sesuatu yang normal dan bukan merupakan kelainan mental.
Hubungan homoseksual sudah ada sejak lama. Pada zaman Yunani Kuno, adalah hal yang wajar bila seorang laki-laki dewasa mengambil seorang anak laki-laki atau laki-laki muda sebagai kekasihnya. Laki-laki yang lebih tua, disebut erastes, akan menjadi pihak agresif sekaligus mentor bagi laki-laki yang lebih muda, yang disebut eromenos atau paidika. Namun hubungan ini akan berakhir ketika erosmenos menginjak usia dewasa. Pada negara lain seperti Roma juga terdapat literatur-literatur mengenai hubungan homoseksual, meskipun seiring berjalannya waktu, masyarakat Roma mulai menganggap hubungan homoseksual sebagai sesuatu yang abnormal dan menghukum kaum homoseksual (Pickett, 2011).
Meskipun tidak banyak disebut dalam sejarah, namun hubungan homoseksual antarperempuan juga telah ada sejak lama. Salah satu sumber yang paling dikenal adalah Sappho yang berasal dari Pulau Lesbos, yang menjadi asal kata dari lesbian (“Lesbian relationships originated in ancient Greece on Lesbos Island”, 2007).
Di Indonesia sendiri homoseksualitas juga sudah dikenal sejak lama. Sebelum agama-agama besar masuk ke Indonesia, masyarakat Indonesia masih menjalankan ritual-ritual adat yang berhubungan erat dengan homoseksualitas. Contohnya adalah kelompok Bissu, Calabai, dan Calalai dalam Suku Bugis dan hubungan Warok-Gemblak di Ponorogo, yang sekarang menjadi langka karena dianggap menyimpang oleh agama-agama besar dan pemerintah (Reksodirdjo, 2011).