Minggu, 28 Desember 2014

Stand by Me Doraemon dan Exodus: Gods and Kings

Udah lama banget gue nggak nulis di sini, ya? Rencananya sih pas liburan gue mau nulis, tapi rasanya males banget... Anyway, gue baru aja nonton dua film yang menurut gue mengecewakan, Stand by Me Doraemon, sama Exodus: Gods and Kings.


Harap diingat bahwa semua yang gue tulis di sini cuma opini gue doang. Karena gue nggak suka sama film-film ini, bukan berarti filmnya nggak bagus atau gimana, cuma nggak cocok aja sama gue.

Spoilers ahead!

Film pertama yang gue tonton adalah Doraemon. Gue nonton bareng Icha, An An, Nyokap, Aai, sama Kenneth.

Gue sebenernya bukan penggemarnya Doraemon. Suka, sih. Tapi ya begitu aja, nggak sampe suka banget atau gimana. Gue nonton film ini karena kayaknya heboh banget, udah gitu katanya filmnya sedih gitu, jadi gue penasaran juga. Apalagi bisa dibilang ini jalan-jalan terakhir bareng temen-temen gue dalam tahun ini.

Gue nggak masalah sama cerita-cerita 'nggak masuk akal' kayak cerita yang ada naga, sihir, perjalanan waktu, dan lain-lain, tapi gue paling nggak tahan sama cerita yang alurnya nggak masuk akal. Ngerti bedanya?

Gue bisa ngerti kalau di beberapa film ada karakter yang bisa bangkit dari kematian atau gitu-gitu, tapi nonton Doraemon bikin gue frustrasi banget.

Yang paling mengganggu gue adalah kemunculan cucu buyut -kalau nggak salah-nya Nobita, Sewashi. Jadi, sebenernya pemilik sah Doraemon itu Sewashi. Di masanya Sewashi, Nobita pas besar menikah sama Jaiko, adiknya Giant. Udah gitu, dia juga nggak dapet kerjaan, pokoknya hidupnya susah gitu, lah. Makanya dia sama Doraemon pergi ke masa lalu untuk ketemu sama Nobita dan mengubah masa depannya.

Di sini masalahnya. Pada akhir cerita, Nobita berhasil mengubah masa depannya. Bukannya nikah sama Jaiko, dia malah nikah sama Shizuka. Pertanyaannya adalah, Sewashi-nya kemana? Seperti yang lo tau, Sewashi itu kan cucu buyutnya Nobita sama Jaiko, jadi kalau Nobita akhirnya nikah sama Shizuka, Sewashi nggak lahir, dong? Kalau Sewashi nggak lahir, Doraemon nggak ketemu sama Nobita, dong? Kalau Doraemin nggak ketemu sama Nobita, cerita ini nggak bakal ada, dong?

Ini kenapa gue nggak pernah bikin cerita soal paradoks waktu. Gue tau kalau ini fim anak-anak, tapi menurut gue, seharusnya pembuatnya lebih mempertimbangkan soal ini. Kalau nggak bisa bikin soal paradoks waktu, mungkin ada penjelasan lain yang masuk akal. Buat gue, teori kalau Nobita sendiri yang buat Doraemon setelah dia tua lebih masuk akal daripada canon-nya.

Satu lagi yang nggak gue suka adalah ending-nya. Kayaknya semua kenalan gue yang udah nonton bilang kalau filmnya sedih banget, bla bla bla. Gue nggak setuju. Lagi-lagi, ini cuma pendapat gue doang.

Pas Nobita akirnya bahagia dan Doraemon harus balik ke masa depan, gue udah mulai sedih dan senang juga. Gue pikir seenggaknya sekarang Nobita bisa belajar untuk hidup tanpa mengandalkan Doraemon. Tapi ternyata Doraemon ninggalin alat yang bisa ngeluarin alat-alat ajaib lainnya untuk bantu Nobita kalau ada keadaan yang sangat, sangat mendesak. Kenyataannya, toh, Nobita langsung pake alat itu.

Alat ajaib yang keluar adalah cairan yang bikin semua kata-kata lo jadi bohong. Pas lihat alat itu, gue mikir, 'Kenapa dia nggak bilang, "Doraemon nggak bakal balik selamanya," aja? Kan yang akan kejadian justru sebaliknya, jadi Doraemon pasti balik, dong?' Tapi gue pikir, mungkin pembuat film ini mau ngajarin anak-anak yang nonton tentang arti perpisahan dan kemandirian. Hah.

Ternyata Doraemon-nya beneran balik. Bukan karena Nobita sengaja, tapi tetep aja akhirnya Doraemon balik lagi ke tempat Nobita. Sedih dari mana?

Kalau masalah paradoks waktu bikin gue frustrasi, masalah ending ini bikin gue kecewa. Gue merasa dengan bikin Doraemon ninggalin alat ajaib buat Nobita aja udah bakal bikin Nobita jadi nggak bisa mandiri lagi, eh, Doraemon-nya ikutan balik. Kalau gitu, Nobita nggak bisa bener-bener belajar tentang perpisahan, dong? Oke lah, mungkin awalnya dia bakal menghargai Doraemon dan segala macam, tapi toh old habits die hard. Gue rasa akan lebih membangun buat Nobita kalau Doraemon nggak balik ke dia.

Itu soal Doraemon. Sekarang soal Exodus.

Awalnya gue kira Exodus itu film horror, makanya gue bingung kenapa Bokap gue kayaknya semangat banget buat nonton film ini. Tapi ternyata Exodus itu film soal Musa.

Gue nggak begitu tertarik buat nonton film ini karena kata Vania ada bagian-bagian yang beda dari Alkitab, tapi karena dibayarin, ya gue nonton aja.

Untung dibayarin. Kalau nggak gue bakal nyesel banget. Gue nggak bisa bilang film ini bagus atau nggak, tapi yang jelas gue bosen banget nonton film ini. Satu-satunya adegan yang nempel di kepala gue adalah adegan Ramses sama anaknya. Gue merasa sedih banget pas anaknya meninggal.

“You sleep so well, my boy, because you know you’re loved."

Istri sama anaknya Musa juga cakep sih.

Hal utama yang mengganggu gue ya jelas ketidaksesuaian filmnya sama Alkitab. Gue nggak tau dia dapet penafsiran dari mana kalau Tuhan bicara sama Musa sebagai anak kecil yang rada... keras kepala? Udah gitu tulah-tulahnya juga berlaku untuk semua orang, padahal harusnya cuma orang Mesir doang yang kena. Musa juga nggak dateng menghadap Ramses untuk melakukan penawaran. Adegan laut terbelah yang gue pikir bakal keren, ternyata malah mengecewakan banget.

Selain itu, gue nggak salah juga waktu ngira Exodus film horror. Ada adegan-adegan yang bikin 'Tuhan' malah seakan-akan kayak hantu yang muncul tiba-tiba, malah ada adegan pas Musa ngobrol sama anaknya, tapi pas anaknya nengok yang muncul malah 'Tuhan'nya. Itu adegan klasik film horor banget.

Terlalu banyak adegan kekerasan juga. Gue ngerti ratingnya emang buat dewasa, dan gue juga ngerti dia mungkin mau menggambarkan perbudakan dengan jelas atau gimana, tapi buat gue banyak pertumpahan darah yang nggak perlu. Apalagi waktu tulah pertama, air jadi darah. Menurut filmnya, air berubah jadi darah karena tiba-tiba banyak buaya dateng dan memangsa manusia serta sesama buaya, makanya airnya berdarah-darah. Gue nggak ngerti dapet dari mana penafsiran buayanya.

Gue jadi merasa nggak nyaman aja nonton filmnya. Belom lagi durasinya lumayan panjang.

Sekian dulu komplain gue. Mungkin gue bakal nulis soal perjalanan gue ke Tidung. Mungkin. Siapa yang tau? Bukan gue. Haha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar