Sabtu, 28 Juni 2014

The Fault in Our Stars

Gue baru aja nonton film The Fault in Our Stars sama I Pipi. Awalnya sih gue nonton film itu terpaksa, cuma buat nemenin Ii doang, tapi ternyata ceritanya lumayan.

Peringatan: Spoiler ahead. 



Jadi ceritanya tentang seorang cewek, Hazel yang mengidap semacam kanker paru-paru gitu. Dia ketemu Agustus, cowok yang juga pengidap kanker, tapi jenis lain, kayaknya berhubungan dengan kaki, karena kaki kanan Agustus diamputasi dari dengkul kebawah.

Mereka jatuh cinta gitu, sampe akhirnya ternyata Agustus kena kanker lagi, kali ini lebih parah dan akhirnya meninggal.

Gue suka sama karakter Hazel dan Agustus. Well, gue lebih meratiin Agustus-nya, sih. Agustus itu tipe cowok yang kayaknya enak buat dijadiin pacar, sementara Hazel, gue suka sama dia karena buat gue dia lumayan tegar dan nggak cengeng. Dinamika hubungan mereka juga enak buat diikutin.

Banyak adegan di film ini yang bikin gue sedih dan rada mau nangis, tapi gue nggak nangis, sih, gengsi sama ii gue. Adegan pertama yang bikin gue merasa mau nangis malah adegan pas Hazel dan Agustus nemuin pengarang favorit mereka, Van Houten. Jadi awalnya Hazel yang suka sama bukunya Van Houten, tapi belakangan Agustus juga suka. Bukunya tentang kanker juga.

Katanya buku itu berakhir di tengah-tengah kalimat, makanya Hazel terobsesi buat tau apa yang terjadi setelah cerita di buku itu selesai, sampai-sampai dia pergi ke Amsterdam buat nemuin Van Houten. Sayangnya, ternyata Van Houten itu rese, dan dia malah ngomong hal-hal yang jahat tentang penderita penyakit kayak Hazel. Nah, pas adegan itu gue jadi berasa mau nangis. 


Lucu juga, sih, karena kalau diingat-ingat lagi, gue bahkan nggak terlalu ngerti sama apa yang diomongin Van Houten, tapi rasanya gue sedih aja.

Ada beberapa adegan lagi yang sedih, apalagi pas Agustus meninggal, tapi lebih baik nggak usah dibahas, nanti yang ada gue jadi sedih lagi. Kalau dipikir-pikir, terakhir kali gue nangis pas nonton sesuatu itu pas gue nonton Tumbling, itu pun karena gue nontonnya sendirian, kalau nggak, mah, gengsi juga gue.

Anyway, ngomongin cerita sedih gue jadi inget sama salah satu fanfiction yang gue baca. Ceritanya Niou jadi asistennya Yagyuu yang bekerja sebagai pembunuh bayaran. Tugas Niou itu buat menghapus seluruh bukti keberadaan Yagyuu setelah dia menyelesaikan misinya, tapi mereka nggak pernah ketemu, cuma chatting doang, itu pun nggak sering. 


Nah, pas Niou ulang tahun, Yagyuu ngasih jam tangan Tag Heuer buat dia. Ceritanya panjang, tapi akhirnya pas hari mereka janjian ketemu, Niou malah dibunuh sama pembunuh bayaran lain yang nggak suka sama Yagyuu, terus Yagyuu harus menghapus semua tentang Niou dengan cara menghancurkan jasadnya. Adegan itu sedih banget. Seriusan, deh. Sejak itu kalau gue ngeliat toko Tag Heuer gue jadi sedih sendiri...

Ngomong-ngomong soal fanfiction, gue baru liat salah satu penulis fanfiction yang terkenal di fandom SnK cerita kalau nyokapnya ternyata baca fanfiction buatan dia. Dan bukan baca dalam arti baca karena nyokapnya juga suka. Gue nggak kebayang kalau nyokap gue baca fanfiction gue. Ya ratingnya T semua, sih, itu pun karena slash pairing, tapi tetep aja, pasti bakal aneh.

Kayaknya itu doang untuk kali ini. Sampai jumpa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar