![]() |
| Gue suka banget sama desain sampulnya. |
Jadi, Lost Butterfly ini berpusat soal masalah transgender. Judul lengkap dari buku ini sebenarnya Lost Butterfly: Dilema Cinta Mantan Pria.
Meskipun katanya dilema cinta mantan pria, pemeran utama di buku ini justru seorang pria, bukan mantan pria, yang bernama Arman. Arman jatuh cinta pada pandangan pertama sama cewek yang dia temui di bandara Malaysia. Entah karena takdir atau kebetulan, Arman bisa ketemu lagi sama cewek itu beberapa kali. Nama ceweknya Maria. Fitriyana Maria Lucci. Tapi Maria ternyata bukan cewek dari lahir, Maria itu dulunya cowok.
Maria juga punya masalah soal percintaan, sih. Jadi temannya yang namanya Sissy, cewek, suka sama dia sebagai perempuan. Rekan kerjanya yang namanya Andy, cowok, tapi dulunya cewek, juga suka sama Maria sebagai perempuan, cuma kalau menurut gue, sih, Andy rada terobsesi sama Maria karena mereka punya latar belakang yang mirip.
Andy sebenarnya udah nikah dan udah punya anak. Gue nggak tau anaknya adopsi atau kandung, tapi emangnya setelah operasi kelamin cewek bisa menghasilkan sperma, ya?
Anyway, buku ini menjurus ke religi, sih, karena masalah ganti kelamin emang nggak bisa lepas dari masalah Tuhan, apalagi di negara kayak Indonesia. Nah, gue nggak terlalu ngerti di bagian pas mereka membahas masalah ini dari sudut pandang agama, karena agamanya beda sama gue, tapi lumayan untuk menambah pengetahuan gue.
Yang gue rasa kurang dari buku ini adalah gaya bahasanya. Menurut gue gaya bahasanya rada canggung gimana... gitu. Kesannya jadi kaku dan rada ngebosenin bacanya. Gue hampir batal namatin buku ini lagi karena gue merasa bosen banget di tengah jalan. Dan ada adegan-adegan yang gue baca secara sekilas aja karena menurut gue nggak terlalu menarik, terutama soal Anisa, anak gurunya Arman yang naksir sama dia, dan Rizal, temen Anisa yang naksir sama Anisa.
Selain itu, di awal-awal, setiap kali Arman membela orang yang transgender, satu hal yang hampir selalu dia jadiin senjata pamungkas adalah, "Bagaimana dengan orang-orang yang mengidap kelainan genital yang kita istilahkan dengan kelamin ganda?" Dia juga bilang, "Pada sebagian kasus, alih-alih melawan kodrat, mereka malah layak disebut mengikuti kodrat atau lebih tepatnya, 'kembali pada kodrat penciptaan'."
Yah, itu pendapat dia, sih, tapi gue merasa kalau dia cuma peduli sama orang-orang yang punya kelamin ganda dan nggak peduli sama transeksual (meskipun di bukunya dia bilangnya transeksual.)
Dikutip dari Kamus Kesehatan, "Transeksual adalah seseorang yang percaya bahwa dia secara psikologis mirip dengan lawan jenis dan merasa terjebak dalam jenis kelamin biologisnya."
Sementara transgender, dikutip dari Suara Kita, "Transgender secara umum ialah orang yang cara berperilaku atau penampilannya tidak sesuai dengan peran gender pada umumnya. Transgender adalah orang yang dalam berbagai level “melanggar” norma kultural mengenai bagaimana seharusnya pria dan wanita itu."
Buat lebih jelas soal perbedaannya bisa dilihat di sini.
Di akhir-akhir berubah, sih, tapi ada yang bikin gue nggak sreg juga. Jadi ceritanya Arman bikin seminar soal operasi kelamin gitu, satu kalimat yang gue rada nggak setuju adalah, "Dibenarkannya operasi ganti kelamin juga tidak berlaku kepada setiap orang, tapi pada sekelompok orang yang mempunyai kecenderungan seksual yang tidak sesuai dengan fisiknya ." Entah kenapa gue nangkepnya sebagai "Mendingan operasi ganti kelamin daripada terlibat hubungan homoseksual."
Dia ngomongnya tuh seakan-akan semua homoseksual adalah transgender, padahal kan nggak gitu. Ada juga cowok yang seneng-seneng aja jadi cowok tapi suka sama cowok. Dan seakan-akan juga kecenderungan seksual adalah hal paling utama dalam pertimbangan buat operasi kelamin. Gue nggak tau itu benar atau nggak, tapi nggak sesuai aja sama pemikiran gue.
Semua yang gue tulis di sini adalah hasil dari penafsiran gue sendiri. Mungkin gue ada salah nangkep atau salah ngerti, tapi buku ini cukup bagus kalau lo tertarik soal masalah transgender dan agama. Coba dicari aja. Tahun terbitnya udah lumayan lama, sih, 2011, tapi siapa tau masih ada di toko buku.
Credit foto sampul dari dekabright.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar