Waktu gue lagi ngobrol sama Marisa, entah gimana kami sampai ke topik tentang kenapa orang bisa jadi homoseksual. Setau gue sih ada banyak teori tentang hal itu. Ada yang bilang karena gen, karena belajar, karena pilihan, dan lain-lain. Gue sendiri lebih setuju sama yang dibilang sama dosen gue, homoseksual itu dipelajari. Tapi gue rada beda pendapat sama dia.
Kalau menurut teori gue (yang sebenernya belum bisa dibilang teori karena katanya yang belum S2 belum bisa bikin teori), manusia itu terlahir sebagai biseksual. Nah, karena mereka lihat manusia di sekelilingnya heteroseksual, jadi mereka juga belajar buat menjadi heteroseksual. Terus, kenapa bisa ada yang homoseksual?
Gue bakal mengibaratkan "ajaran heteroseksual" sebagai biji, dan diri manusia sebagai tanah.
Ada tanah yang keras, ada tanah yang lembek, yang subur, yang nggak subur, dan lain-lain. Gue rasa sebagian orang tanahnya subur, makanya begitu ditabur biji, bijinya tumbuh jadi pohon yang berakar kuat sehingga susah untuk tumbang. Nah, yang kayak gini adalah orang-orang yang lo sebut heteroseksual. Sebenarnya bisa aja mereka punya perasaan sama sesama jenis, tapi karena akarnya kuat, perasaan itu didorong sama alam bawah sadarnya dan berubah menjadi perasaan sayang ke teman doang.
Ada juga yang mungkin tanahnya kurang subur. Bijinya sih tumbuh, akarnya juga ada, tapi nggak kuat. Orang-orang kayak gini adalah orang yang kalau punya perasaan ke sesama jenis, alam bawah sadarnya nggak cukup kuat buat menekan perasaan itu, dan perasaannya akhirnya muncul ke alam sadar. Tapi karena pada dasarnya pohonnya masih berakar, maka dia merasa ada yang salah sama dirinya dan menyangkal perasaan tersebut. Biasanya orang kayak gini yang paling tersiksa. Mungkin bisa dibilang homosexual in denial.
Ada lagi yang tanahnya mungkin emang nggak subur atau nggak cocok sama bijinya. Jadinya bijinya nggak bisa tumbuh atau tumbuh tapi lemah banget. Karena pada dasarnya lemah, maka perasaannya bisa dengan mudah masuk ke alam sadar. Dan karena nggak ada akarnya atau akarnya lemah banget, pas dia sadar sama perasaannya, dia bisa lebih mudah buat menerima.
Biarpun di sini gue bilang "perasaan", tapi mungkin juga yang muncul itu "daya tarik seksual".
Selain faktor bijii dan pohon, ada juga aktor lain yang nggak kalah penting, yaitu faktor lingkungan, yaitu keluarga, teman, masyarakat sekitar. Bisa aja, tanahnya bagus, subur, tapi nggak ada yang urusin, atau mungkin kurang air sehingga bijinya nggak tumbuh dengan baik; bisa juga ada tanah yang nggak subur-subur banget, tapi karena yang tanam bijinya rajin, disiram tiap hari, dikasih pupuk sehingga bijinya tumbuh jadi pohon dengan akar yang kuat.
Atau bisa aja meskipun pohonnya sudah tumbuh dengan baik, tiba-tiba ada badai atau becana atau kerusakan (a.k.a. kejadian-kejadian yang tak terduga) yang merusak kualitas pohon dan akarnya. Kejadian yang gue maksud di sini bukan cuma kejadian buruk doang, tapi bisa aja entah kenapa dia memiliki ketertarikan yang sangat kuat ke salah satu sesama jenisnya sehingga pohon dan akarnya rusak.
Buat orang-orang yang gue sebut homosexual in denial, setau gue mereka antara cari bantuan untuk bisa jadi heteroseksual (a.k.a. memperkuat pohonnya) atau akhirnya menerima (a.k.a. nggak terlalu peduli lagi sama pohonnya). Kayaknya kalau dari yang gue denger dari dosen gue, sih, kliennya banyakan yang minta bantuan untuk memperkuat pohonnya.
Gimana soal biseksual? Menurut gue, perkembangannya sama kayak homoseksual, cuma bukannya tertarik sama sesama jenis, mereka tertarik sama lawan dan sesama jenis.
Yah, kira-kira begitu teori gue. Kalau boleh dikasih nama, gue bakal kasih nama teori ini "Teori Biji". Kok kayaknya rada aneh, ya? Hehe.
Anyway, semua yang gue tulis di sini tidak berdasarkan teori apa pun dan murni berasal dari kepala gue, jadi nggak dijamin kebenarannya (namanya juga teori). Selain itu, gue juga nggak ngerti-ngerti banget soal tanaman, jadi kalau ada analogi yang salah mohon dimaklumi.
Sebagai penutup, apapun yang menyebabkan seseorang menjadi homoseksual, gue rasa mereka nggak perlu dihakimi. Nggak ada satu orang pun yang berhak untuk mendikte jalan hidup orang lain, meskipun lo adalah orang tua, saudara, atau teman dari orang tersebut. Dan jalan hidup lo sendiri juga belum tentu sebaik dan selurus yang lo pikir, so, ada baiknya kalau kita saling introspeksi diri masing-masing dan nggak usah ngurusin masalah orang lain, oke?
Post ini didedikasikan kepada Marisa yang nyuruh gue untuk mempublikasikan Teori Biji.
HAHAHAHAHA, fan. wajib banget ini gue share. hahahahaha
BalasHapusbtw, thanks for your opinion about this matter, though. Semoga ada guru besar Universitas Indonesia yang baca terus dipatenkan sebagai teori lo. hahahahaha
You're welcome.
BalasHapusSemoga aja. Terus nanti teori gue di-publish di jurnal internasional. Heh.