Rabu, 10 September 2014

The Masterminds & Psycopat Diary

Gue baru selesai baca dua novel, The Masterminds dari Komikus Rifan sama Psycopat Diary dari Vasca Vannisa. Karena menurut gue perbedaan antara dua novel ini cukup besar, gue bakal bahas dua-duanya sambil mungkin ngebandingin juga.

Peringatan: Mengandung spoiler!

Pertama-tama, gue bahas soal The Masterminds.

Ini sinopsis dari novelnya:

Seven Master sistem pendidikan di SMU-SMU Jogja menjadi sistem pelajaran ilmu bela diri. Namun belum genap beberapa minggu sistem itu dijalankan, banyak terjadi pembunuhan. Para pejabat parlemen serentak meminta Seven Master Menghentikan sistem yang dianggap pemicunya.

Wakil Presiden mengutus Dyka Teratai Kelam untuk memasuki wilayah Jogja. Tugasnya menyamar menjadi murid baru serta mempengaruhi murid-murid di sana untuk menentang Seven Master. Sebuah misi sangat berat, yang juga digunakan sebagai misi pencarian sahabat....

This is the real chaos of school!

Buat gue, sinopsis ini cukup menarik. Makanya gue bingung kenapa buku ini ditempatkan di rak yang isinya novel dan buku horor yang rada-rada nggak jelas. Setelah baca isinya, gue lebih bingung lagi. Isi novel ini jauh dari kesan horor. Mungkin lebih cocok masuk di... teenlit fantasy? Gue nggak terlalu ngerti soal genre-genre, sih..

Hmm... Mulai dari yang bagusnya duu, kali, ya? Penulisannya rapi, dalam artian tanda baca berada pada tempatnya dan menggunakan EYD, meskipun seinget gue masih ada beberapa typo.

Gue juga suka penulisnya pake nama-nama dengan bahasa Indonesia, kayak Dyka Teratai Kelam, Fini Putri Cahaya, atau Nukhu Kerangka Bumi. Nama-nama sekolah sama panggilan Kaisarnya juga pake bahasa Indonesia.

Kaisar? Iya. Di buku ini, ceritanya Jogja udah berantakan gara-gara sistem sekolah dirubah, murid-murid cuma belajar agama, olahraga, sama berbagai ilmu bela diri. Nah, dua puluh murid yang paling jago se-Jogja dipanggil Kaisar. Ada tujuh Kaisar Cahaya, tujuh Kaisar Kegelapan, sisanya Kaisar Netral. Katanya Kaisar Netral itu lebih jago dari kaisar-kaisar lain.

Sampe di sini, sih, gue masih suka sama konsepnya. Tapi setelah itu, gue nggak terlalu tertarik sama buku ini.

Satu hal yang paling bikin kecewa sama buku ini adalah sinopsisnya misleading banget. Waktu beli buku ini, gue berharap buat baca cerita seorang cowok yang jago berantem yang mengemban misi sulit dan menemukan makna persahabatan selama dia ngejalanin misinya. Kenyataannya?

Dyka Teratai Kelam itu cewek yang terpilih buat diajarin seluruh ilmu bela diri buat ngalahin Seven Master. Selain karena misinya, dia ke Jogja juga buat nyari sahabatnya yang udah dia sakitin karena dia bilang ke pacarnya bahwa dia nggak kenal sama sahabatnya itu gara-gara malu. Ternyata, pacar sahabatnya itu satu sekolah sama dia, dan meskipun awalnya si pacar sahabat nggak suka sama dia, mereka jadi temenan.

Di tengah-tengah cerita baru ketahuan bahwa sahabatnya Dyka, yang ternyata adalah Kaisar Cahaya paling kuat, masuk rumah sakit karena menderita luka parah setelah di serang sama para Kaisar Kegelapan, salah satunya adalah pacar Dyka. Gue nggak habis pikir kenapa Dyka yang anak Jakarta bisa pacaran dan sahabatan sama anak-anak Jogja.

Di Jogja, murid-murid nggak cuma belajar bela diri biasa, tapi mereka juga belajar ilmu tenaga dalam dan ilmu-ilmu lain yang nggak bisa dijelasin pake logika. Daripada dibilang mereka saling berantem dengan ilmu bela diri, gue rasa lebih cocok kalau dibilang mereka berantem pake sihir.

Ada jurus mengendalikan bayangan, jurus mengendalikan waktu, mempercepat kematian... Yang paling aneh menurut gue, sih, jurus mengendalikan bayangan. Di cerita ini, semakin terang keadaan sekitar, semakin lemah kekuatan bayangannya. Ini nggak masuk akal. Dimana-mana juga kalau terang bayangan jadi lebih kuat. Di tempat gelap kan nggak ada bayangan? Heh.

Bukan ide ceritanya yang mengganggu, tapi gaya penulisannya. Sebelumnya gue pernah bilang kalau gaya penulisan Lost Butterfly mengganggu gue karena bahasanya rada aneh dan alurnya terasa rada lambat. Kalau di The Masterminds, gue terganggu karena alurnya kayak cepet banget. Bahasanya juga berasa rada aneh, tapi mungkin itu karena gue nggak biasa aja baca novel Indonesia yang murid sekolahan bisa dipanggil 'Tuan Putri' atau 'Tuan Muda' sama murid-murid yang lain.

Gue juga merasa ada bagian-bagian yang... janggal. Kayak waktu Dyka dkirimin obat sama nyokapnya, buat tambah kuat atau something like that. Karena obatnya enak, Dyka langsung ngabisin semuanya. Eh, pas dia obatnya udah habis, nyokapnya baru bilang jangan langsung minum semua karena bisa bikin dia mati. Dyka langsung galau. Di akhir cerita ternyata obat itu justru bisa bikin tubuh dia jadi baik lagi kalau udah terluka parah.

Mungkin ceritanya nggak aneh, tapi cara penyampaiannya aneh. Gue pikir waktu Dyka ngabisin obatnya, itu bakal dibikin jadi lelucon doang, eh taunya Dyka malah menggalau dengan serius, dan akhirnya malah kayak gitu. Ngegajel pikiran gue banget.

Udah gitu bab 21 sampe bab 24 dinamain 21. Perang, 22. Perang #2, 23. Perang 3#, 24. Perang #4. Kesannya rada nggak niat ngasih judul...

Gue tau penulis boleh nulis apa aja yang dia suka, tapi kali ini gue nyesel beli buku ini. Mungkin kedengerannya kasar, tapi fanfiction aja banyak yang lebih bagus dari ini. Kalau The Masterminds itu fanfiction, gue nggak bakal terlalu banyak protes dan terlalu kecewa, tapi mengingat gue harus mengeluarkan uang buat baca cerita ini... well, gue nggak puas.

Lanjut ke Psycopat Diary.
Ini sinopsisnya:

Seorang aktor yang baru menerima penghargaan pemeran pria terbaik, menghilang misterius di malam pembunuhan istrinya. Dia ditetapkan sebagai buronan hingga seorang intel berhasil menyibak rahasia di lembar-lembar naskah yang ditemukan di lokasi kejadian.

Naskah film yang dilakoni sang Aktor diusut. Kecurigaan mengarah kepada seorang Pengusaha Klub malam, seorang Disc Jokey, mantan artis yang frustasi, hingga Penulis skenario film tersebut.

Pembunuhan-pembunuhan baru terus bermunculan tanpa bisa dihentikan. Hingga sebuah aib masa kecil sang Psycopat berhasil membuatnya melepas satu persatu topengnya.

Apa sesungguhnya motif sang pelaku dibalik semua pembunuhan sadisnya?

Perjalanan ke kota masalalu sang Psycopat mengantarkan dua orang intel pada kejutan-kejutan yang sulit diterima logika. Seorang di antara mereka masuk terlalu dalam pada luka-luka masa lalu sang Psycopat.

Akankah dia bisa keluar dari pergolakan batin dan menemukan pelaku yang sesungguhnya? Atau akan berakhir mengenaskan seperti korban-korban lainnya?

Berasa ada yang aneh? Orang-orang yang udah pernah baca karya Vasca Vannisa sebelumnya, mungkin nggak terlalu bingung baca sinopsis yang penuh typo kayak gini.

Ya, banyak typo di sinopsis ini. Kebayang novelnya?

Kebalikan sama The Masterminds, Penulisan Psycopat Diary berantakan. Waktu gue baca novelnya yang pertama, Don't Tell Me Anything, sih, gue masih maklum. Itu buku pertama dia, dan kalau menurut cerita yang dia ceritain ke Marisa, ada berbagai alasan lain juga. Tapi ini buku keempat. Dan buku keduanya, Paranoid, pernah jadi best seller. Bukannya harusnya kualitas penulisannya udah jauh lebih baik?

Buat gue pribadi, typo-typo yang ada di buku ini cukup mengganggu konsentrasi gue pas baca. Tapi itu mungkin karena perhatian gue emang mudah dialihkan.

Lanjut ke jalan ceritanya. Gue suka banget. Sejak buku pertamanya, gue emang udah suka banget sama cerita-ceritanya Vasca Vannisa (kecuali Paranoid, gue belom sempet beli).

Yang paling gue suka adalah di bagian prolog, waktu ada dua kejadian tentang anak yang bernama Norma (atau Alesa?). Awalnya gue nggak ngerti, tapi begitu selesai baca baru gue ngerti kalau dua kejadian itu adalah kejadian yang terpisah.

Lo pasti nggak ngerti gue ngomong apa, ya? Khusus novel ini, gue nggak mau ngasih terlalu banyak spoiler. Coba lo cari bukunya di toko buku terdekat.

Gue pernah baca di tumblr, sesuatu yang intinya, "Lo mungkin merasa hebat dan dewasa kalau lo percaya akan dunia yang kelam, dunia di mana pembunuhan itu biasa, pengkhianatan itu biasa, kemanusiaan udah nggak ada harganya. Tapi sebenernya lo nggak hebat. Karena mudah untuk kehilangan rasa percaya akan kemanusiaan, tapi untuk mempertahankannya, itu baru susah."

Cerita-cerita Vasca Vannisa kebanyakan tentang dunia yang... well, dunia yang udah kehilangan rasa kemanusiaannya. Bukannya gue mau bilang dia payah atau apa, tapi sejujurnya, salah satu alasan kenapa gue merasa punya commitment issues adalah karena gue baca bukunya dia.

Yang paling gue inget adalah di Paranoid, waktu pemeran utamanya di'buang' sama suami dan anaknya karena dia udah gendut dan nggak cantik. Bukan sesuatu yang besar, mungkin. Itu cuma cerita fiksi, tapi itu adalah awal gue mulai merasa gue mungkin nggak mampu buat percaya sama calon pasangan gue sepenuhnya.

Apalagi habis itu gue baca novel-novel lain (yang bukan karangannya) dan nonton film-film di mana selingkuh itu kayaknya gampang banget, cinta udah nggak ada berarti. Ini kenapa gue lebih suka fanfiction, karena biasanya di fanfiction, kalaupun satu pasangan pisah, itu karena kematian, jarang yang karena orang ketiga atau keempat. Penulisnya setia sama OTP mereka, sih...

Overall, terlepas dari typo, buku ini lebih dari layak buat dibaca, kalau lo suka sama cerita misteri pembunuhan.

Dari penjabaran gue tentang dua novel di atas, kayaknya keliatan jelas kalau gue condong ke Psycopat Diary, ya? The Masterminds nggak jelek, dan lay out-nya bikin novel ini lebih mudah dibaca daripada Psycopat diary yang tulisannya kecil-kecil dan spasi yang rada sempit, cuma mungkin buku ini nggak sesuai sama selera gue. Coba aja lo beli dua-duanya, siapa tau lo berpendapat lain.

Hmm... Sekian dan terima kasih?

6 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Well well ... tidak sengaja aku membaca blog ini, dan ... ternyata novelku direview. :D tapi aku senang sih dengan kritikannya yang jujur. Akhirnya ada juga yang me-review-nya. Novel itu adalah novel pertamaku dulu, dan herannya kenapa penerbit baru menerbitkannya akhir-akhir ini. Aku emang menunggu ada yang mengkritik kejam ke buku ini.

    Typo, kelogisan cerita, keefektifan kalimat serta tutur bahasa yang terlalu kaku. Kenapa tidak diubah? Jawabannya karena naskah itu sudah lama di penerbit, jadi aku berterima kasih padamu, semoga di naskah-naskah lainnya tidak akan melakukan kesalahan seperti itu lagi. Kecuali jika kamu memang sudah terlalu dalam menyesalnya membeli bukuku. Hehehehehe.

    Maaf atas ketidaknyamanan kamu membaca karyaku.
    Terima kasih juga sudah mau membaca dan mengkritiknya.


    Salam

    Komikus Rif'an a.k.a Rabira

    BalasHapus
    Balasan
    1. O-ow... Gue nggak nyangka review ini bakal dibaca sama pengarangnya...
      Sekarang gue jadi merasa bersalah...

      Sebenernya sih kayaknya review ini terlalu bias, makanya kesannya kejam karena dibandinginnya sama novel yang lain.

      Sori banget, ya. Gue nggak nyesel-nyesel banget belinya, review-nya ditulis langsung setelah baca, sih, jadi masih belom sempet dinginin kepala.

      Umm... makasih udah berkunjung ke blog ini?

      Hapus
  3. Kakak orang yg percaya cinta.. salah kalau nuduh kk nggak percaya pasangan.. Kalau ada manusia beruntung yg menemukan cinta sejati. Maka kakak adalah salah satunya. Tapi dunia novel dan dunia real, jelas ada dinding pembatas diantara keduanya.
    Penulis sebagian besar dunia real lbh kelam dari duniaimajinasinya. Kalau kakak sebaliknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buset. Penulisnya komen di sini semua.

      Saya bukannya bilang kakak ga percaya pasangan, tapi saya yang jadi rada nggak percaya sama orang.... bukan gara-gara kakak banget, sih... kayaknya lebih ke sayanya.

      Atau mungkin karena saya belum ketemu orang yang tepat aja... tapi mumpung di sini, saya mau bilang kalau saya suka banget sama karya kakak. =D

      Hapus