Vania itu temen gue yang spesial. Bukan spesial gimana juga, sih. Temen-temen gue yang lain juga spesial, tapi pertemuan gue sama Vania itu yang paling berkesan, makanya dia spesial.
Jadi, seharusnya waktu gue jalan-jalan ke Singapura, sebenernya gue bolos ospek sama hari pertama dan kedua kuliah. Setelah kuliah hari Senin sama Selasa (dan gue bolos dua-duanya), ada libur Lebaran kira-kira dua minggu.
Nah, gue masuk kuliah setelah libur Lebaran. Hari Kamis. Mata kuliah Filsafat. Karena gue nggak ikut ospek dan kawan-kawannya, gue jadi nggak ada bayangan sama sekali tentang Fakultas Psikologi. Waktu itu gue ditemenin Marisa buat nyari gedungnya.
Setelah diantar sama kakak kelas baik hati, sampailah gue di Gedung K lantai 3, Fakultas Psikologi. Masalahnya, gue nggak tau kelasnya di mana. Tepat di depan lift ada satu ruang kelas yang kayaknya rame, tapi gue nggak berani masuk. Gue liat ada cewek lagi berdiri di depan kelas itu sambil baca-baca pengumuman. Gue samperin aja cewek itu, terus gue tanya soal kelas KBK 2012.
Ternyata, dia juga seangkatan sama gue, dan kelas yang di depan lift itu emang kelas KBK 2012.
Tapi kan gue nggak berani masuk sendirian, sementara itu cewek lagi nungguin temennya. Akhirnya gue nunggu bareng dia sambik pura-pura baca pengumuman juga.
Gue inget dia beberapa kali bilang ke gue, "Masuk aja, gapapa," dan gue jawab dengan, "Nanti aja, gapapa," sambil berharap-harap dia cepetan masuk. Haha.
Seperti yang mungkin lo bisa tebak, cewek itu Vania, sementara temen yang dia tunggu itu... Prisil kalau nggak salah. Kenalannya pas jadi SPG di PRJ.
Setelah akhirnya Vania masuk ke kelas, gue juga ikutan masuk. Kelasnya rame banget. Dan sempit. Gue dapet tempat duduk rada jauh dari Vania. Di sebelah gue ada orang lain. Nah, gue kenalan sama dia. Baru sekilas doang, sih. Waktu itu gue liat ada dua cewek Tionghua baru masuk dan duduk beberapa baris di depan gue. Gue inget mikir, 'Wah, cewek cakep,' pas lihat mereka. Haha.
Karena kelasnya sempit, akhirnya kami dipindahin ke satu ruangan yang sebenernya bukan buat kelas. Di sana kami kuliahnya sambil lesehan. Gue masih duduk bareng sama cewek yang tadinya di sebelah gue, dan di sebelah cewek itu adalah dua cewek Tionghua cakep itu. Ternyata mereka bukan dari Jakarta dan nggak tahu bahasa gaul Jakarta. Jadi sambil nunggu dosennya dateng, gue sama cewek di sebelah gue ngajarin mereka soal bahasa di Jakarta.
Selesai sesi satu ada istirahat kira-kira dua puluh menit. Gue sama cewek sebelah gue turun buat beli makan. Yamien. Namanya juga mahasiswa baru. Takut banget telat masuk kelas. Akhirnya gue sama dia makan dengan buru-buru karena katanya kelasnya udah mau mulai, padahal ternyata belum. Kejadian itu berulang selama beberapa hari. Lucunya, setelah semester satu, gue nggak pernah makan yamien lagi.
Nah, cewek sebelah gue itu Tika, sementara dua cewek Tionghua itu An An sama Helen.
Setelah sesi dua, ada istirahat kira-kira satu setengah jam, terus lanjut ke sesi tiga. Di sesi tiga ini mahasiswa dipecah per kelas, A, B, C, sama D. Sebelumnya pas sesi satu sama dua, satu angkatan digabung semua.
Ternyata, Helen kelas C, sementara gue, An An, Tika, sama Vania kelas D. Gue juga nggak inget gimana ceritanya, tapi karena tugasnya itu tugas kelompok, akhirnya gue masuk kelompok Tika. Di situ ada Tiffany, Delvi, Annisa, Tika, Vania, sama An An.
Bukan kebetulan, sih, kayaknya, karena mereka udah kenalan pas ospek sama kuliah sebelumnya. Dari situ gue bisa temenan sama mereka.
Selama hari Kamis dan Jumat, mereka selalu ngomongin soal "Helza". Katanya dia masih liburan, jadi masuknya hari Senin. Gue nggak kenal sama sekali sama si "Helza" ini. Dan sejujurnya gue rada takut juga. Gimana kalau nanti "Helza" masuk, dan gue ditendang dari kelompok ini? Gue cuma kenal mereka doang, soalnya.
Tapi yah, gue diem aja. Gue cuma dengerin doang kalau mereka lagi ngomongin "Helza" sambil diem-diem berharap gue nggak bakal ditinggal.
Hari Kamis selesai, Jumat lewat. Sabtu sama Minggu libur. Dimulailah minggu yang baru. "Helza" masuk. Ternyata dia cukup menyenangkan. Gue lega banget. Gue nggak inget jelas kapan dia masuk, dan gue juga nggak nyatet di jurnal gue, tapi yang pasti gue mulai bener-bener kenal dia pas hari Rabu.
Buat tugas hari Senin, harus bikin kelompok dengan lima anggota. Kalau di total, gue, temen-temen gue, gue nggak inget Helza udah masuk atau belom, ada tujuh atau delapan orang. Nggak mungkin banget bisa satu kelompok semua.
Sebagai orang yang terakhir masuk ke grup mereka, gue ngalah dan nyari kelompok baru. Gue sekelompok sama Dony, Dea, Ado, Steven dan An An. Karena waktu itu temen-temen gue maunya sekelompok semua, tapi kan nggak mungkin, akhirnya ada kebingungan gitu. Nah, pas kebingungan ini, An An masuk kelompok gue. Ujung-ujungnya kelompok gue berenam juga, sih.
Yang gue suka dari kelompok ini adalah, kalau ditulis, NIM Dony, Steven, gue, sama An An berurutan. Mulai dari 106, 107, 108, 109. Tapi NIM Dea sama Ado nggak.
Salah satu anggota kelompok gue, Ado, juga spesial. Tugas waktu itu adalah bikin presentasi. Dia menawarkan diri buat bikin powerpoint-nya. Kebetulan. Gue emang nggak bisa bikin begituan. Jadilah dia yang bikin. Masalahnya, setelah hari Senin, dia nggak pernah masuk kuliah lagi. Pas hari presentasinya, dia nitip USB presentasinya ke pembantunya, dan dianter ke UnTar. Sampe sekarang gue nggak pernah ketemu sama dia lagi. Biar ketemu, juga, gue nggak yakin inget mukanya, sih.
Gue nggak inget jelas soal hari Selasa selain ada kuis, dan gue belom belajar, karena gue nggak tahu sama sekali. Untung masih keburu belajar.
Hari Rabu, dibagi kelompok lagi. Gue nggak inget sekelompok sama siapa aja, tapi yang pasti gue sekelompok sama Helza juga. Di sini gue baru bener-bener kenalan sama dia, dan baru bener-bener yakin bahwa dia nggak bakal bikin gue ditinggal sama yang lain. Haha. Tugas waktu itu presentasi juga. Tentang film King's Speech kalau nggak salah. Kami pulang sampai jam enam. Besoknya seisi Fakultas Psikologi langsung heboh soal, "Anak KBK katanya pulang jam enam sore, ya?"
Gue nggak bisa cerita banyak soal kesan pertama gue akan Tiffany, Delvi, sama Icha. Mereka itu lebih kayak... apa, ya? Kehadiran yang awalnya nggak terlalu lo perhatiin, tapi pas sadar, tiba-tiba mereka udah spesial buat lo. Tipe yang kalo lagi ngobrol bareng bisa tiba-tiba bikin lo mikir, 'Huh? Dulu gimana ceritanya gue bisa deket sama mereka, ya?' Kira-kira sama kayak gue dan Suprobo dulu.
Setelah itu masih banyak kisah, mulai dari gue yang jadi deket sama orang-orang lain (meskipun akhirnya gue balik lagi), anak-anak yang pada sibuk rapat, sibuk sama kegiatan organisasinya, sampai sekarang, Vania lagi cuti kuliah. Itu kenapa kami ngerayain ulang tahunnya hari ini, bukannya pas hari-H.
Waktu mau daftar ulang pas masuk kuliah, sebenernya gue sudah hampir ikut daftar ulang bareng Tenny Son, Shinta, dan kawan-kawannya pas hari pertama, tapi gue lupa bawa slip pembayaran gitu. Akhirnya gue batal ikut dan daftar ulang bareng Marisa tanggal 1 Agustus.
Itu satu hal yang gue syukuri sampai sekarang. Kalau waktu itu gue ikut daftar ulang bareng Tenny Son, maka gue nggak bakal masuk kelas D, dan gue nggak bakal temenan sama mereka kayak sekarang.
Emang ada kemungkinan gue dapet temen-temen lain, tapi gue nggak bakal nuker temen-temen gue buat kemungkinan apapun.
Kalau kalian baca post ini, An An, Delvi, Helza, Icha, Tiffany, Tika, Vania, I love you guys ♥
![]() |
| Ulang tahun Vania |
![]() |
| Ulang tahun Helza |
![]() |
| Ulang tahun Tika |
![]() |
| Ulang tahun Tiffany |
![]() |
| Ulang tahun gue |
Yang lain belum ulang tahun~ Haha.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar