Halo, ketemu lagi dengan Fanfan~
Kali ini gue mau cerita mengenai pengalaman gue jalan-jalan ke Australia bareng teman-teman MT gue, Edith dan Valerie.
Semua berawal dari pembicaran santai saat makan siang.
Edith/Val: Kita jalan-jalan, yuk.
Gue: Yuk, yang bisa pulang hari aja, kayak Bogor gitu, kita naik kereta!
Edith/Val: Maksud gue jalan-jalan yang ke luar negeri gitu.
Gue: Oh... Kalau ke luar negeri, gue mau yang banyak bulenya, ya. Biar berasa.
Kenapa gue mau yang banyak bulenya? Karena kan kalau ke tempat yang banyak orang Asianya, rasanya nggak beda jauh. Apalagi gue tinggal di daerah pecinan juga. Jadi orang Melayu dan Asia Timur sudah jadi pemandangan setiap hari. Kalau bule, kan, agak jarang, tuh.
Tadinya kami mau ke New Zealand, tapi ternyata mahal, cuy. Masih lebih murah ke Aussie. Jadilah kami mulai diskusi mau ke Australia bagian mananya. Awalnya, kami sepakat ke Perth. Alasannya simple, karena Perth lebih murah daripada Sydney atau Melbourne.
Waktu itu mungkin sekitar bulan Oktober, sementara kami rencananya mau pergi akhir Mei, jadi kami belum mulai beli tiket atau pesan hotel. Semuanya baru dalam tahap rencana.
Di bulan Desember, kami mulai lihat-lihat lagi. Entah apa yang terjadi, kami berubah haluan dari Perth ke Sydney dan Melbourne. Gue benar-benar nggak ingat kenapa. Pokoknya in the end maunya ke Sydney dan Melbourne. Tapi balik lagi, semua baru rencana.
Mungkin di bulan Januari atau Februari, kami mulai cari-cari tiket pesawat. Nah, di sini tujuan kami berubah lagi. Jadinya ke Blue Mountain dan Sydney doang. Tujuannya supaya jadwal di sana nggak terlalu padat, jadi masih bisa jalan-jalan tanpa tekanan. Ini sudah final.
Kami beli tiket pesawat di akhir Februari. Sebenarnya agak was-was juga, sih, karena kan belum apply visa, tapi kalau nunggu kelamaan, tiket pesawat jadi lebih mahal. Akhirnya dengan memberanikan diri kami beli dulu tiketnya. FYI, kami beli tiket di Golden Rama. Jakarta-Sydney PP dengan transit di Singapura Rp. 6.750.000. Itu naik Singapore Airlines dan sudah dapat bagasi 30kg serta makan di pesawat.
Setelah beli tiket, kami baru urus visa. Kenapa urus visanya mepet? Karena waktu cari-cari informasi di internet, katanya visa cuma berlaku tiga bulan setelah visa dikeluarkan. Gue sendiri nggak yakin sama kebenaran informasi tersebut, tapi just in case pas mau pergi terus visanya nggak berlaku, kami apply-nya bulan Februari akhir juga. Kami bikin visa di Golden Rama juga, karena kan beli tiketnya sudah di situ. Harganya Rp. 1.919.000. Tapi katanya harga tergantung sikon, sih, jadi sebenarnya bisa lebih murah atau lebih mahal tergantung kapan apply-nya. Untuk waktu pengerjaannya, sekitar 2 minggu visanya sudah jadi.
Tiket sudah dibeli, visa sudah jadi, penginapan sudah dipesan, tinggal tunggu waktu untuk berangkat.
Untuk penginapan, sebenarnya gue nggak terlalu banyak ikut campur, sih, Valerie dan Edith yang pilih. Tadinya kami mau nginap di AirBnB, tapi setelah dilihat-lihat, nginap di hotel lebih hemat, apalagi untuk hotel di Blue Mountain ada sarapannya juga
Untuk lebih lengkap mengenai hotel gue bahas di post ini, ya.
Lanjut ke hari keberangkatan.
BERANGKAT
Kami berangkat hari Jumat, 25 Mei 2018 dan sampai di Jakarta lagi hari Minggu, 3 Juni 2018. Hitung-hitung kami di Aussie delapan hari.
Jumat siang kami janjian untuk ketemu di bandara. Pesawat take-off jam 2 siang dan sampai di Singapura jam 4 sore. Di Singapura kami transit tiga jam. FYI, kalau kalian naik SQ dan transit di Changi Airport, kalian bisa dapat voucher belanja SGD 20. Lumayan, kan. Tapi nggak bisa buat beli makanan berat, jadi kami pakai untuk beli coklat. Jam 7 malam kami berangkat ke Sydney. Perjalanan sekitar tujuh sampai delapan jam. Jam enam pagi kami tiba di Sydney.
DAY 1 - THREE SISTERS, KATOOMBA CASCADES
Sesampainya di Sydney, kami langsung berangkat ke Blue Mountain naik kereta. Perjalanannya sendiri sekitar dua jam. Blue Mountain itu ternyata dingin. Memang, sih, kami perginya di akhir musim gugur, tapi kami nggak nyangka Blue Mountain ternyata lumayan dingin. Untungnya gue pinjam long jonn sama Edith, jadi nggak terlalu kedinginan.
Kami sampai di penginapan sekitar jam 11. Kami menginap di Echo Point Motor Inn. Dekat banget sama Three Sisters Lookout. Karena belum boleh check-in, kami lihat-lihat Three Sisters dulu. Kebetulan, kami memang mau coba menjalani Three Sisters Walk yang katanya mudah dan dekat. Anehnya, perjalanan kami tidak selesai-selesai, padahal sudah sekitar dua atau tiga jam kami berjalan. Usut punya usut, yang kami jalani bukan Three Sisters Walk melainkan Prince Henry Cliff Walk. Gampangnya, kalau Three Sister Walk harusnya ke kiri, kami jalannya ke kanan. Lol.
Tapi nggak rugi juga, sih, jalanin Prince Henry Cliff Walk. Pemandangannya bagus, hawanya juga teduh. Di ujung perjalanan, kami tiba di Katoomba Cascades. Maunya sih ke Katoomba Falls, tapi sudah nggak sanggup jalan lagi.
![]() |
| Katoomba Cascades |
Setelah balik ke penginapan, kami check-in dan beli air. Entah kenapa penginapan yang ini nggak memberikan air. Mungkin karena di sini air mahal? Anyway, setelah beli air, kami jalan-jalan lagi ke Three Sisters Lookout untuk melihat sunset. Bagus banget pemandangan di sini.
![]() |
| Sunset at Three Sisters |
Setelah sunset, kami balik ke penginapan. Rencananya mau mandi, beres-beres, makan malam, dan mungkin jalan-jalan lagi sebentar. Tapi apa daya, begitu selesai mandi dan berbaring di kasur, rasa kantuk menyerang dengan sangat kuat. Akhirnya kami bertiga langsung tidur.
Kalau dihitung-hitung gue tidur dari jam enam sore sampai jam sembilan pagi. Lima belas jam. Tapi hari pertama memang capek banget, sih. Apalagi ditambah dengan salah jalan.
DAY 2 - WENTWORTH FALLS, LEURA, SUBLIME POINT
Hari kedua dimulai dengan sarapan Indomie goreng. Setelah sarapan, kami pergi ke Wentworth Falls. Wentworth Falls ini juga ada track-nya, namanya Wentworth Falls Track. Jalannya jauh dan naik turun. Di tengah jalan gue merasa nggak sanggup dan pengen menyerah, tapi menyerah pun lo nggak bisa kemana-mana, karena itu di tengah hutan. Tapi sama seperti sebelumnya, pemandangan yang gue temukan di sana worth it banget. Kami bahkan jalan sampai ke atas air terjunnya.
![]() |
| Gue jalan sampai ke atas air terjun itu |
Perjalanan dari stasiun ke Wentworth Falls itu lumayan jauh, sekitar setengah jam. Pas pergi kami jalan kaki dengan pemikiran, 'Kalau pulangnya nggak sanggup bisa naik Uber.' Guess what? Pas kami pesan Uber dari Wentworth ke stasiun, nggak ada sopir. Bukannya nggak ada sopir yang mau pick-up, tapi sopirnya saja nggak ada. Jadilah kami jalan kaki lagi.
Setelah dari Wentworth, kami berangkat ke Leura. Jadi kami mau ke Leura karena penasaran sama yang namanya Leura Mall. Ternyata, Leura Mall itu bukan gedung mall seperti yang biasa kita lihat di Jakarta. Leura Mall itu sederetan toko di pinggir jalan gitu. Lumayan ramai, sih.
Di Leura, kami makan di takeaway gitu. Sejauh pengalaman kami, makan di takeaway itu murah dan lumayan memuaskan. Jadi kalau mau ke Aussie dengan budget yang ngepas, gue saranin untuk cari takeout dan pesan ayam. Kalau di-Rupiah-in tentu saja tetap mahal, tapi kalau dibanding menu lain, harganya beda lumayan jauh. Fish and Chip sekitar AUD 10, sementara chicken wing satunya AUD 1.8.
Anyway, setelah makan, kami rencananya mau ke Sublime Point. Ketika sampai di stasiun, ternyata kereta selanjutnya sekitar 40 menit lagi, padahal hari sudah lumayan sore, dan kami masih harus jalan dari stasiun ke Sublime Point. Akhirnya, setelah berunding dan browsing di internet, kami memutuskan untuk naik taksi. Untungnya ada.
Di Sublime Point, kami menunggu sunset. Gue akan mengulangi kata-kata gue, tapi pemandangannya bagus banget. Gue nggak bisa menjelaskan, tapi yang pasti bagus banget.
| Sunset at Sublime Point |
Setelah dari Sublime Point, kami naik taksi lagi ke penginapan. Dengan kembalinya kami ke penginapan, hari kedua selesai.
DAY 3 - CHINESE GARDEN OF FRIENDSHIP, THE ROCKS FREE TOUR, VIVID SYDNEY
Hari ketiga, kami balik lagi ke Three Sisters untuk menikmati pemandangan terakhir kalinya. Setelah puas memandangi gunung, kami berangkat ke Sydney.
Di Sydney kami menginap di Sydney Boutique Hotel. Setelah check-in, kami langsung jalan ke Chinese Garden of Friendship. Dari awal, kami pengen banget ke tempat ini. Why? Because we're Chinese and we're friends. lol. Tadinya kami pikir masuk ke sini gratis, tapi ternyata bayar AUD 6. Karena sudah terlanjur dan memang sudah niat dari lama, akhirnya kami tetap masuk. Tempatnya bagus. Seperti namanya, taman ini merupakan hadiah persahabatan Tiongkok dan Australia. Suasana tamannya oriental gitu.
![]() |
| Find Fanfan |
Dari Chinese Garden of Friendship, kami ke The Rocks untuk mengikuti Free Tour. Awalnya kami kesulitan menemukan tempat berkumpulnya, karena sedang ada Vivid Sydney, jadi tempatnya itu didandani dan terlihat berbeda dari apa yang kami lihat di website. Untungnya kami berhasil menemukan tempatnya sesaat sebelum tur dimulai.
Pemandu tur kami namanya Logan. Kalau gue nggak salah dengar. Kami diajak jalan muter-muter The Rocks. Karena sedang ada Vivid Sydney juga, jalanan jadi kosong dan nggak banyak mobil. Cocok untuk walking tour.
Setelah tur, kami masih jalan-jalan sekitar Circular Quay untuk lihat-lihat Vivid. Setelah puas, kami kembali ke hotel.
DAY 4 - SELF WALKING TOUR, SYDNEY FISH MARKET, COCKATOO ISLAND, CHATSWOOD
Hari keempat. Rencananya kami mau mengikuti Free Tour lagi, kali ini yang keliling Sydney, tapi apa daya, kami bangun terlalu siang. Karena sudah pasti nggak keburu mengikut Free Tour, kami jalan-jalan sendiri dengan pegangan buku panduan Sydney yang kami ambil di bandara.
Kami jalan ke Sydney Opera House, masuk ke Royal Botanic Garden, duduk di Mrs. Macquarie's Chair, dan ke St. Mary's Cathedral. Setelah jalan-jalan, kami memutuskan untuk makan di Sydney Fish Market.
![]() |
| Foto wajib kalau ke Sydney |
Sesaat setelah masuk ke Sydney Fish Market, gue merasa pindah negara. Kayak di Singapura. Isinya orang Asia (mostly Chinese). Agak lucu, sih. Gue makan chicken karaage di situ. Makan chicken karaage di Sydney Fish Market. Mungkin gue memang tipe orang yang sukanya anti-mainstream.
Di sini ada kejadian menarik. Edith mau makan semacam kerang berkeju yang dibakar gitu. Pas lagi ngantri, Edith nanya ke gue, "Pesannya pakai bahasa Inggris atau Indonesia, ya?" Ternyata staff-nya adalah orang Indonesia, panggil saja K. Gue bilang ke dia, "Pakai bahasa Indonesia aja, lah, kita nggak usah sok Inggris." Jadilah Edith pesan dengan bahasa Indonesia.
Saat mau milih kerang, gue merhatiin kerang yang paling ujung, karena kerang yang paling ujung itu besar banget. Paling besar di antara yang lain. Sayangnya si K nggak milih yang itu buat Edith. Nggak berapa lama setelah dia masak untuk Edith, dia mengganti kerang pilihannya ke kerang yang paling ujung. Iya, yang paling besar itu. Gue nggak tau apakah itu memang nggak sengaja atau karena rasa solidaritas sesama orang Indonesia, tapi akhirnya Edith dapat kerang yang besar.
Setelah makan, kami berangkat ke Cockatoo Island.
Cockatoo Island ini tadinya merupakan pulau tempat tahanan. Setelah tidak dipakai sebagai penjara, pulau ini dialihfungsikan jadi sekolah dan tempat pembuatan kapal, tapi kemudian balik lagi jadi penjara, dan sekarang dijadikan tempat wisata.
Pulaunya sendiri nggak besar, tapi memang bagus. Masih ada bangunan-bangunan bekas sekolahan, dan ada tempat camping juga. Semacam glamping mungkin.
![]() |
| Sunset at Cockatoo Island |
Dari Cockatoo Island, kami berangkat ke Chatswood, tujuan kami adalah mengejar Vivid. Salah satu atraksi (?) Vivid Sydney di Chatswood adalah Liquid Lies, yang katanya lo akan dikasih minuman sesuai dengan hasil tes kebohongan lo. Gue sama Valerie semangat banget mau coba. Begitu sampai di tempatnya, ternyata yang antri anak-anak, dong. Tapi dengan mental 'kapan lagi gue ke Sydney?', kami tetap coba juga.
Pertanyaan:
1. Kalau ketemu uang satu juta dollar, simpan atau kembalikan?
Kembalikan. Karena satu juta dollar itu terlalu banyak. Kalau seratus ribu mungkin gue simpan. Haha.
2. Siapa gebetan lo sekarang?
Nggak ada. Karena sudah lama banget gue nggak punya gebetan. Kecuali kalau member GOT7 termasuk, mungkin?
3. Sudah coba berapa banyak dating app?
None. Karena menurut gue dating app itu bahaya dan mencurigakan.
Hasilnya? LIES. Dia bilang gue menjawab dua atau lebih pertanyaan dengan bohong. Gue sendiri nggak tahu yang mana yang bohong. Anyway, gue dikasih minuman warna merah. Rasanya kayak sirup gitu, sih, asem-asem manis.
Edith ditanya mengenai pengalaman paling memalukannya, sementara Valerie ditanya dua pertanyaan. Gue lupa yang satu apa, tapi yang satu lagi adalah pertanyaan yang lumayan riskan. Gue nggak yakin gue boleh cerita di sini, tapi intinya dia bilang nggak dan mesinnya bilang dia bohong. Lucunya dia jadi panik. Santai aja, Val. Makin dipikirin malah makin aneh nantinya.
Selesai di Chatswood, selesai juga perjalanan kami hari itu.
Pantengin terus blog ini untuk perjalanan gue di Day 5-8. ;D
P.S. Untuk yang mau lihat perjalanan gue selama di Sydney, bisa cek di sini (private account, though).






Tidak ada komentar:
Posting Komentar