Rabu, 13 Juni 2018

Just Do Fun (Seriously, I love the pun)


Halo, bertemu lagi dengan Fanfan. Gue akan cerita mengenai pengalaman gue ke Dufan hari ini.

Jadi, karena mulai 13 Juni 2018 kantor gue cuti bersama, gue diajak Ci Dev untuk ke Dufan bersama teman-teman lainnya. Mostly anak-anak recruitment. Untuk yang belum tahu, Ci Dev adalah semacam kakak panutan gue dan anak-anak MT di kantor. Haha.

Balik ke topik awal, jadilah hari ini gue ke Dufan.


Pagi-pagi gue berangkat dianterin sekeluarga, karena keluarga gue juga mau main-main di Ancol. Setelah di-drop off di depan Dufan, petualangan gue dimulai.

Terakhir gue ke Dufan, tuh, Desember 2012, yang mana sekitar enam tahun yang lalu. Lumayan lama juga. Tapi meskipun enam tahun berlalu, kayaknya, sih, Dufan nggak berubah banyak.

Perhentian pertama setelah masuk Dufan adalah… stand makanan. Karena anak-anak pada lapar dan belum sarapan, mereka beli makanan dulu. Mostly french fries, sih. Setelah snacking, kami baru ke wahana pertama, Hysteria.

Jadi di Hysteria, tuh, kita duduk di kursi, lalu kursinya dinaik-turunin gitu. Lumayan bikin perut tergelitik. Wahananya sendiri lumayan cepat, cuma 35 detik, dan surprisingly, setelah naik-turunan pertama, rasanya sudah nggak terlalu nendang. Mungkin karena ekspektasi gue, tuh, pas terakhir dia tarik ke paling atas dan langsung dijatuhin ke paling bawah, tapi ternyata nggak. Jadi berasanya cuma di awal dong. Tapi lumayan lah, tetap bikin jantung serasa ketinggalan.

Perhentian kedua, Mysterious Island. Ngantri The Mysterious Island ini panjang, dan ada beberapa spot yang panas. Di sini ada cerita. Jadi, kan kami mau masuk antrian, pacarnya teman gue udah masuk, eh, tiba-tiba ada ibu-ibu yang nyelonong. Sebut saja Ibu A. Sekarang posisinya adalah pacarnya teman gue - Ibu A - teman gue - rombongan gue. Baru masuk, tiba-tiba si Ibu A manggil dua anaknya (mugkin 10-13 tahunan) untuk ngantri bareng dia. Yang artinya dia nyuruh anaknya nyelak.

Anaknya yang cewek mau, tapi anaknya yang cowok nggak mau. Tapi teman gue juga maju, sih. Jadi posisi sekarang adalah pacarnya teman gue - teman gue - Ibu A - Anak Cewek - rombongan gue - Suami Ibu A - rombongan lain - Anak Cowok. Gue juga nggak ngerti kenapa si Anak Cowok itu kepisah sama Bapaknya.

Sepanjang antri, Ibu A dan Anak Ceweknya tuh ngedumel mengenai seharusnya si Anak Cowok dan si Suami maju aja, biar mereka bareng. Padahal rombongan gue bersepuluh, loh. Jadi kalau si Suami mau maju, dia harus nyelak delapan orang. 

Belum gue selesai kagum sama Ibu A, tiba-tiba ada satu ibu lagi yang jalan melewati antrian sambil permisi-permisi. Lucunya, semua orang kasih jalan. Mungkin karena bingung atau gimana. Beberapa saat setelah si Ibu itu permisi-permisi, ada Bapak dan rombongannya (sekitar 7-10 orang) yang niat nyelak juga. Tapi dia diteriakin sama Ko Mike (Ko Mike itu pacarnya Ci Dev).

Masih dalam posisi mengantri, akhirnya si Anak Cowok nurutin mamanya dan nyelak rombongan kami, meskipun si Suami nggak. Yang bikin nggak rela, pas mau masuk, cuma ada slot untuk 9 orang, sementara kami bersepuluh. Jadi kami nggak bisa masuk. Padahal kalau dua anak itu nggak nyelak, kami bisa masuk duluan.

Dimana-mana juga kalau mau barengan ya ngalah, mana ada kalau mau barengan terus rombongannya disuruh maju dan nyelak orang. Tapi ya sudah lah, yang sudah terjadi nggak bisa diapa-apain lagi.

Setelah dari The Mysterious Island yang nggak seru-seru amat, kita makan dulu di McD. Antrinya panjang. Untung saja ada tempat yang cukup untuk kami makan. 

Setelah makan, kita lanjut main Niagara-Gara. Gue kebagian di paling depan. Kata masnya paling depan nggak basah, karena yang paling basah itu yang paling belakang. Tapi ternyata gue basah juga, dong. Muka gue yang kuyup. Celana juga lumayan basah.

Habis dari Niagara-Gara, kami masuk ke Rumah Miring. Seperti namanya, rumahnya miring. Agak mabok, sih, tapi nggak parah-parah amat juga. Habis dari Rumah Miring, kami ke Rumah Kaca. Seingat gue dulu Rumah Kaca itu seru dan membingungkan, tapi Rumah Kaca yang kali ini membosankan karena gue cuma ngikut orang jalan doang. Mungkin karena rame, jadinya gampang, dan nggak ada pake nyasar-nyasaran.

Setelah dari rumah-rumah itu, kami ngantri Halilintar, tapi pas ngantri, orang-orang yang sudah naik ke kendarannya, disuruh turun dulu sebentar, terus ada suara-suara aneh gitu. Habis itu mereka disuruh naik lagi. Agak seram. Karena seram dan karena antriannya panjang, kami pindah wahana, ke Kora-Kora.

Antri Kora-Kora kan panjang juga, jadi kami duduk sambil ngantri. Pas berdiri dan mau maju, tiba-tiba jantung gue berdebar-debar, agak mual, dan pandangan agak berkunag-kunang. Jadi seram, kan. Akhirnya gue nggak jadi naik. Padahal gue mau banget main. Gue ke toilet dan beli Dumdum.

Selama gue nunggu Dumdum, ternyata yang lain sudah selesai main, dan mereka menuju ke Hysteria lagi, karena ada yang mau main lagi. Sekitar sepuluh sampai lima belas menit nunggu, rombongan yang ngantri keluar dari antrian. Terlalu panjang antriannya katanya. Akhirnya kami pergi ke Ubanga Banga. 

Ubanga Banga itu bumper car. Ngantrinya satu jam kira-kira. Permainannya sendiri sekitar 3-5 menit. Dari Ubanga Banga, kami ngantri di Ice Age. Itu juga lumayan lama, sekitar satu jam. Tapi lumayan worth it, sih. Lebih seru dari Istana Boneka, lah.

Selesai Ice Age, sudah mau tutup antrian wahananya. Jadi kami cari wahana paling dekat, yaitu Kora-Kora. Akhirnya kesampaian juga main. Kalau Hysteria itu cepat tapi intens, Kora-Kora itu nggak intens tapi lama. Menurut gue masih lebih seru Hysteria, sih, tapi lumayan juga, lah. 

Selesai Kora-Kora, selesai juga petualangan gue di Dufan. Dua wahana yang nggak kesampaian adalah Turangga Rangga (komidi putar) dan Bianglala. Mungkin enam tahun lagi gue akhirnya bisa naik dua wahana itu.

Sekian cerita gue hari ini. Sampai jumpa!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar